Hidup Memang Sulit, Lebih Sulit Lagi Jika Kamu Tidak Punya Common Sense

⏱️ Bacaan: 14 menit, Editor: EZ.  

Hidup memang sulit. Tapi kesulitan itu bukanlah musuh utama. Musuh yang lebih berbahaya adalah ketika kita kehilangan arah, kehilangan kepekaan, dan kehilangan kemampuan untuk membedakan mana yang masuk akal dan mana yang tidak.

Di tengah dunia yang makin kompleks, cepat, dan bising, kita tidak selalu butuh jawaban instan atau gelar tinggi. Yang kita butuhkan lebih dulu adalah sesuatu yang sederhana tapi langka: common sense — akal sehat.

Akal sehat bukan soal IQ, bukan soal status sosial, dan bukan pula soal siapa yang paling vokal. Ia adalah kemampuan untuk berpikir jernih, menimbang logika dasar, dan bertindak dengan nalar. Ia adalah kompas hidup yang membimbing kita melewati kabut informasi, jebakan emosi, dan tekanan sosial.

Tanpa common sense, kita mudah tersesat. Kita bisa jadi pintar tapi tetap bodoh dalam keputusan. Kita bisa tahu kebenaran tapi tetap bebal dalam sikap. Kita bisa punya rencana tapi tetap malas bertindak. Kita bisa punya niat baik tapi tetap tidak disiplin dalam pelaksanaannya.

Empat artikel sebelumnya telah membedah akar-akar kesulitan hidup:

  • Bodoh: ketika kita menolak belajar dan memilih ketidaktahuan yang nyaman
  • Bebal: ketika kita tahu salah tapi tetap mengulanginya
  • Malas: ketika kita tahu harus bertindak tapi memilih diam
  • Tidak Disiplin: ketika kita gagal menjaga komitmen dan konsistensi

Kini, kita sampai pada simpulnya. Artikel ini bukan hanya penutup, tapi penyintesis. Tidak datang membawa vonis, tapi menawarkan arah. Karena jika empat masalah itu adalah gejala, maka kehilangan common sense adalah penyakit utamanya.

Dan kabar baiknya: common sense bukanlah anugerah yang hanya dimiliki segelintir orang. Ia bisa dilatih. Ia bisa dibangun. Ia bisa menjadi kebiasaan.

Maka mari kita gali bersama: apa sebenarnya common sense itu? Mengapa ia begitu penting? Dan bagaimana kita bisa menjadikannya kompas hidup di tengah dunia yang makin rumit?


Bagian 1: Definisi – Common Sense Bukan Bawaan Lahir, Tapi Kebiasaan Logis

Common sense sering dianggap sebagai sesuatu yang “sudah seharusnya dimiliki semua orang.” Padahal, justru karena asumsi itulah banyak orang tidak pernah benar-benar melatihnya. Akal sehat bukanlah insting bawaan, melainkan hasil dari proses berpikir yang jernih, pengalaman yang diolah, dan keberanian untuk bertanya: “Masuk akal atau tidak?”

Ia bukan soal kecerdasan akademik, melainkan kecerdasan praktis. Bukan soal tahu banyak, tapi tahu kapan harus berpikir. Orang yang punya common sense tidak selalu punya jawaban, tapi ia tahu kapan harus berhenti, menimbang, dan bertanya. Ia tidak terjebak pada ego ingin terlihat pintar, tapi fokus pada kejelasan dan relevansi.

Kita sering melihat orang yang punya gelar tinggi tapi tetap menyebarkan hoaks. Atau orang yang punya jabatan tapi tetap mengambil keputusan absurd. Ini bukan soal pendidikan formal — ini soal akal sehat yang tidak pernah dilatih.

Dan kabar baiknya: akal sehat bisa dibentuk. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang konsisten:

  • Mendengar sebelum menyimpulkan.
    Akal sehat dimulai dari kesediaan untuk mendengar secara utuh, bukan sekadar menunggu giliran bicara. Banyak orang menyimpulkan sebelum informasi selesai disampaikan, lalu membentuk opini dari potongan-potongan yang bias.
    Mendengar bukan hanya soal telinga, tapi soal niat untuk memahami. Dalam dunia yang serba cepat, mendengar adalah bentuk perlawanan terhadap impuls. Ia memberi ruang bagi logika untuk bekerja sebelum emosi mengambil alih.
    Orang yang terbiasa mendengar dengan sabar akan lebih mampu melihat konteks, menangkap nuansa, dan menghindari kesalahpahaman yang tidak perlu.
  • Bertanya sebelum percaya.
    Common sense tidak anti-kepercayaan, tapi anti-kepatuhan buta. Ia mendorong kita untuk bertanya: “Dari mana informasi ini datang?”, “Apa buktinya?”, “Siapa yang diuntungkan jika saya percaya ini?”
    Bertanya bukan tanda keraguan, tapi tanda kedewasaan berpikir. Di era hoaks dan manipulasi digital, bertanya adalah benteng terakhir sebelum kita terseret arus kebingungan.
    Orang yang punya akal sehat tidak mudah percaya hanya karena “katanya”, “viral”, atau “rame di grup”. Ia tahu bahwa kepercayaan tanpa verifikasi adalah pintu masuk kebodohan.
  • Menimbang sebelum bereaksi.
    Reaksi cepat sering dianggap cerdas, padahal bisa jadi ceroboh. Akal sehat mengajarkan kita untuk menimbang: apakah ini fakta atau asumsi? Apakah ini penting atau hanya memancing emosi?
    Menimbang bukan berarti lambat, tapi berarti sadar. Ia memberi jeda antara stimulus dan respons, agar keputusan lahir dari logika, bukan impuls.
    Dalam konflik, orang yang menimbang lebih mampu meredakan ketegangan. Dalam keputusan, ia lebih mampu melihat jangka panjang. Dan dalam hidup, ia lebih mampu menjaga arah.

Akal sehat adalah kebiasaan logis yang bisa dilatih, bukan privilese yang hanya dimiliki segelintir orang. Dan dalam dunia yang makin bising, ia bukan hanya alat berpikir—ia adalah bentuk keberanian paling mendasar.


Bagian 2: Sintesis – Tanpa Akal Sehat, Masalah Lama Terus Berulang

Common sense bukan hanya solusi — ia adalah fondasi. Tanpa akal sehat, empat masalah utama yang telah dibahas dalam serial ini bukan hanya bertahan, tapi berkembang biak. Kita tidak hanya mengulangi kesalahan, tapi mewariskannya. Dan hidup yang sudah sulit menjadi tak tertolong.

Mari kita lihat bagaimana kehilangan common sense memperparah setiap masalah:

  • Bodoh.
    Ketika kita menolak belajar, kita bukan hanya kekurangan informasi, tapi kehilangan kemampuan untuk menimbang logika dasar. Common sense mendorong kita untuk bertanya, untuk tidak puas dengan “katanya”, dan untuk berani mengakui bahwa kita belum tahu. Tanpa akal sehat, kebodohan menjadi pilihan yang nyaman dan berulang.
  • Bebal.
    Mengetahui kesalahan tapi tetap mengulanginya adalah tanda bahwa logika telah dikalahkan oleh ego. Common sense mengajarkan bahwa koreksi bukan ancaman, tapi peluang untuk tumbuh. Tanpa akal sehat, kita menolak fakta, menutup telinga, dan merasa cukup dengan kebenaran versi sendiri.
  • Malas.
    Malas bukan sekadar tidak bergerak, tapi tidak berpikir. Common sense menyalakan alarm logis: “Kalau tidak sekarang, kapan?” Ia mengingatkan bahwa menunda bukan solusi, dan bahwa langkah kecil lebih baik daripada diam panjang. Tanpa akal sehat, kita tahu harus bertindak tapi tetap memilih diam.
  • Tidak Disiplin.
    Ketika kita gagal menjaga komitmen, hidup menjadi berantakan. Common sense mengingatkan bahwa konsistensi bukan soal mood, tapi soal tanggung jawab. Ia membantu kita melihat bahwa kebiasaan kecil hari ini menentukan arah besar esok. Tanpa akal sehat, kita terus mencari alasan untuk menyimpang.

Akal sehat bukan hanya benang merah yang menghubungkan keempat masalah ini — ia adalah simpul yang bisa menguraikannya. Ia tidak menjanjikan hidup yang mudah, tapi menjamin kita tidak terus mengulang kesalahan yang sama.

Dan dalam masyarakat yang makin bising, akal sehat adalah bentuk keberanian: keberanian untuk berpikir jernih, untuk bertanya, untuk berubah.


Bagian 3: Psikologi – Mengapa Akal Sehat Sering Diabaikan?

Ironisnya, common sense adalah hal yang paling dibutuhkan dalam hidup, tapi paling sering diabaikan. Bukan karena kita tidak tahu pentingnya, tapi karena ada banyak jebakan psikologis dan sosial yang membuat akal sehat terpinggirkan.

1. Overconfidence Bias – Merasa Sudah Tahu, Padahal Belum Paham.

Banyak orang merasa cukup hanya dengan “pernah dengar” atau “sudah tahu sedikit.” Padahal, pengetahuan parsial sering kali lebih berbahaya daripada ketidaktahuan total.
Ketika kita terlalu percaya diri, kita berhenti belajar. Kita menolak koreksi. Kita merasa cukup dengan pemahaman dangkal.
Akal sehat justru tumbuh dari kesadaran bahwa kita bisa salah, dan bahwa berpikir ulang bukan kelemahan, tapi kekuatan.

2. Groupthink – Mengikuti Arus Tanpa Berpikir.

Dalam banyak komunitas, berpikir kritis dianggap mengganggu harmoni. Bertanya dianggap tidak sopan. Berbeda pendapat dianggap pembangkangan.
Groupthink membuat kita menyesuaikan diri dengan mayoritas, bahkan ketika mayoritas salah.
Akal sehat menantang ini. Ia tidak anti-sosial, tapi anti-kepatuhan buta. Ia mengajarkan bahwa berpikir mandiri bukan ancaman, tapi kontribusi.

3. Confirmation Bias – Mencari yang Menguatkan, Bukan yang Mencerahkan.

Kita cenderung mencari informasi yang sesuai dengan keyakinan kita, bukan yang menguji atau memperluasnya.
Ini membuat kita hidup dalam gelembung kognitif, di mana semua yang kita lihat hanya memperkuat apa yang sudah kita percaya.
Akal sehat memaksa kita keluar dari gelembung itu. Ia mendorong kita untuk bertanya: “Apakah ini benar, atau hanya nyaman?”

4. Kenyamanan Emosional – Akal Sehat Itu Melelahkan.

Berpikir itu melelahkan. Menimbang itu butuh waktu. Dan dalam dunia yang serba cepat, kita tergoda untuk memilih yang instan.
Akal sehat sering kalah oleh emosi, impuls, dan rasa ingin cepat selesai.
Tapi justru di tengah kecepatan itulah, akal sehat menjadi penyeimbang. Ia memberi jeda, memberi ruang, dan memberi arah.

5. Budaya Sosial – Akal Sehat Tidak Dianggap Penting.

Di banyak lingkungan, akal sehat tidak diajarkan, tidak dihargai, bahkan kadang ditertawakan.
Orang yang bertanya dianggap sok tahu. Orang yang menimbang dianggap lamban.
Padahal, masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang berpikir. Dan akal sehat adalah fondasi dari literasi sosial, politik, dan ekonomi.


Bagian 4: Contoh – Ketika Akal Sehat Dikalahkan oleh Kebiasaan Absurd

Akal sehat bukan teori abstrak. Ia hidup dalam keputusan sehari-hari — dalam cara kita menyerap informasi, merespons situasi, dan memilih tindakan. Ketika akal sehat absen, absurditas menjadi norma. Dan yang lebih mengkhawatirkan: absurditas itu sering dianggap wajar karena sudah terlalu sering terjadi.

Berikut beberapa contoh yang menunjukkan betapa seriusnya krisis common sense di sekitar kita:

  • Malas membaca, tapi merasa paling tahu.
    Di era internet cepat, banyak orang merasa cukup hanya dengan membaca info card, menonton video pendek, atau menyimak caption viral. Artikel dianggap terlalu panjang, apalagi buku.
    Akibatnya, pemahaman jadi dangkal, tapi kepercayaan diri tetap tinggi. Orang merasa tahu banyak padahal hanya mengutip potongan. Akal sehat seharusnya bertanya: “Apakah saya benar-benar paham, atau hanya sedang mengulang suara orang lain?”
  • Menyebarkan hoaks karena “rame di grup”.
    Banyak orang membagikan informasi tanpa membaca isinya, apalagi memverifikasi sumbernya. Akal sehat seharusnya bertanya: “Siapa yang menulis ini? Apa tujuannya?” Tapi kebiasaan menyebar lebih cepat daripada kebiasaan berpikir.
  • Menghindari diskusi karena takut berbeda pendapat.
    Di banyak lingkungan, bertanya atau berpikir kritis dianggap mengganggu. Akal sehat seharusnya memberi ruang untuk dialog sehat. Tapi budaya “asal setuju” membuat kita kehilangan kemampuan untuk berpikir mandiri.
  • Mengabaikan instruksi karena merasa sudah tahu.
    Misalnya, tidak membaca manual sebelum menggunakan alat, atau tidak mengikuti prosedur karena “saya sudah sering pakai.” Akal sehat seharusnya mengingatkan bahwa setiap konteks bisa berbeda. Tapi kebiasaan merasa cukup membuat kita rentan pada kesalahan berulang.
  • Percaya utang online bisa diselesaikan dengan doa, bukan perhitungan.
    Banyak orang terjebak pinjaman berbunga tinggi karena tidak memahami mekanisme dasar keuangan. Akal sehat seharusnya bertanya: “Berapa bunga per bulan? Apa konsekuensinya?” Tapi rasa malas berpikir dikalahkan oleh godaan instan.
  • Menganggap literasi digital tidak penting, padahal hidup sudah serba online.
    Banyak orang tidak tahu cara membedakan situs kredibel dan situs abal-abal. Tidak tahu cara mengamankan data pribadi. Tidak tahu bahwa jejak digital bisa berdampak hukum. Akal sehat seharusnya menjadi filter, bukan korban algoritma.
  • Menyalahkan sistem hukum tanpa tahu hak dan kewajiban sendiri.
    Ketika seseorang kena sanksi, respons pertama sering kali adalah menyalahkan pemerintah. Padahal, akal sehat seharusnya bertanya: “Apa aturan yang saya langgar? Apa yang bisa saya pelajari dari ini?” Tanpa pemahaman hukum dasar, kemarahan menjadi pelarian.
  • Mengikuti tren investasi tanpa memahami risiko, lalu menyalahkan pasar.
    Banyak orang tergoda ikut-ikutan investasi karena FOMO (fear of missing out). Tidak membaca prospektus. Tidak memahami volatilitas. Akal sehat seharusnya bertanya: “Apakah saya siap rugi?” Tapi euforia sering kali membutakan logika.

Contoh-contoh ini bukan untuk menghakimi, tapi untuk menunjukkan bahwa akal sehat bukan hal sepele. Ia adalah pelindung dari keputusan buruk, penyeimbang dari emosi sesaat, dan penjaga dari absurditas yang merusak.


Bagian 5: Call to Action – Latih Akal Sehat dalam Hal Kecil

Common sense tidak tumbuh dari seminar, gelar, atau status sosial. Ia tumbuh dari kebiasaan sehari-hari yang sederhana tapi konsisten. Dan karena ia bukan bawaan lahir, maka siapa pun bisa melatihnya — asal mau.

Berikut beberapa langkah kecil yang bisa kita lakukan untuk membangun akal sehat sebagai kebiasaan hidup:

  • Biasakan bertanya “masuk akal atau tidak?” sebelum percaya sesuatu.
    Jangan langsung percaya hanya karena ramai, viral, atau dikatakan oleh orang yang kita kagumi. Akal sehat dimulai dari keberanian untuk bertanya, bukan dari kepatuhan buta.
  • Dengarkan pendapat yang berbeda, bukan untuk setuju, tapi untuk memahami.
    Akal sehat tumbuh dari perspektif yang beragam. Mendengar bukan berarti menyetujui, tapi membuka ruang logika untuk bekerja. Kita tidak bisa berpikir jernih jika hanya mendengar gema dari keyakinan sendiri.
  • Evaluasi keputusan: apakah berdasarkan logika atau impuls?
    Sebelum bertindak, beri jeda. Tanyakan: “Apakah ini keputusan yang dipikirkan, atau hanya reaksi sesaat?” Akal sehat memberi ruang antara stimulus dan respons, agar tindakan lahir dari nalar, bukan emosi.
  • Jangan buru-buru menyimpulkan dari satu sumber.
    Satu artikel, satu video, satu komentar tidak cukup untuk membentuk kesimpulan. Akal sehat mendorong kita untuk membandingkan, meneliti, dan menimbang. Kebenaran tidak lahir dari kecepatan, tapi dari ketelitian.
  • Latih empati: akal sehat juga butuh perspektif orang lain.
    Banyak keputusan absurd lahir dari ketidakmampuan melihat dari sudut pandang orang lain. Akal sehat bukan hanya soal logika, tapi juga soal kepekaan sosial. Ia membantu kita memahami dampak dari tindakan kita terhadap orang lain.
  • Konsisten dalam hal kecil: tepat waktu, jujur, bertanggung jawab.
    Akal sehat bukan hanya soal berpikir, tapi soal bertindak. Dan tindakan kecil yang konsisten adalah fondasi dari karakter yang kuat. Orang yang terbiasa disiplin dalam hal kecil akan lebih mampu berpikir jernih dalam hal besar.
  • Luangkan waktu untuk membaca utuh, bukan hanya scroll cepat.
    Akal sehat butuh bahan bakar: informasi yang utuh, refleksi yang mendalam, dan pemahaman yang kontekstual. Jangan puas dengan potongan. Jangan berhenti di judul. Jangan merasa cukup dengan video 30 detik. Luangkan waktu untuk membaca, merenung, dan berpikir.

Melatih akal sehat bukan proyek besar. Ia adalah kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari. Dan dalam dunia yang makin cepat, melambat untuk berpikir adalah bentuk keberanian.


Kesimpulan: Common Sense Sebagai Kompas Hidup

Hidup memang sulit. Tapi akan jauh lebih sulit jika kita berjalan tanpa arah.
Kita bisa punya niat baik, tapi tanpa akal sehat, niat itu bisa berubah jadi bumerang. Kita bisa punya akses ke informasi, tapi tanpa akal sehat, informasi itu bisa menyesatkan. Kita bisa punya semangat, tapi tanpa akal sehat, semangat itu bisa membabi buta.

Common sense adalah kompas hidup. Ia tidak menjanjikan jalan yang mudah, tapi membantu kita memilih jalan yang masuk akal. Ia tidak membuat kita selalu benar, tapi mencegah kita terus salah. Ia tidak menghapus kesulitan, tapi memberi arah agar kita tidak tersesat di dalamnya.

Dan dalam dunia yang makin kompleks — dengan informasi yang membanjiri, opini yang bersaing, dan tekanan yang datang dari segala arah—akal sehat bukan lagi sekadar kelebihan. Ia adalah kebutuhan.

Empat artikel sebelumnya telah menunjukkan bahwa:

  • Tanpa belajar, kita terjebak dalam kebodohan.
  • Tanpa refleksi, kita terperangkap dalam kebebalan.
  • Tanpa dorongan bertindak, kita tenggelam dalam kemalasan.
  • Tanpa konsistensi, kita terombang-ambing dalam ketidakdisiplinan.

Dan kini kita tahu: tanpa common sense, semua itu akan terus berulang.
Karena akal sehat bukan hanya solusi — ia adalah fondasi. Ia adalah titik balik. Ia adalah keberanian untuk berpikir jernih di tengah kabut.

“Hidup memang sulit, tapi akan lebih mudah jika kita menjadikan common sense sebagai kompas hidup.”
Karena tanpa akal sehat, kita bukan hanya kehilangan arah — kita kehilangan kendali atas hidup itu sendiri.


Epilog Serial: Hidup Memang Sulit – Tapi Kita Bisa Memilih Cara Menghadapinya

Serial Hidup Memang Sulit bukan sekadar kumpulan artikel. Ia adalah perjalanan reflektif yang mengajak kita melihat kesulitan hidup bukan sebagai kutukan, tapi sebagai medan latihan.

Dari bodoh yang menolak belajar, bebal yang menolak koreksi, malas yang menunda langkah, hingga tidak disiplin yang gagal menjaga komitmen — semua itu adalah cermin dari pilihan-pilihan kecil yang kita buat setiap hari.

Dan di ujung perjalanan, kita sampai pada simpulnya: common sense.
Akal sehat bukan solusi instan, tapi fondasi yang menyatukan semuanya. Ia adalah kompas yang membantu kita belajar tanpa tersesat, berubah tanpa tersandung ego, bergerak tanpa kehilangan arah, dan konsisten tanpa kehilangan kendali.

Hidup memang sulit. Tapi kita bisa memilih cara menghadapinya.
Kita bisa memilih untuk berpikir jernih, bertindak masuk akal, dan membangun kebiasaan yang sehat.
Kita bisa memilih untuk tidak menjadi korban dari kebodohan, kebebalan, kemalasan, dan ketidakdisiplinan.
Kita bisa memilih untuk menjadikan akal sehat sebagai gaya hidup — bukan karena kita ingin terlihat pintar, tapi karena kita ingin hidup lebih ringan, lebih bijak, dan lebih bertanggung jawab.

Karena pada akhirnya, hidup bukan soal siapa yang paling tahu, tapi siapa yang paling mau berpikir.
Bukan soal siapa yang paling keras bicara, tapi siapa yang paling jernih melihat.
Dan bukan soal siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling tepat.

Hidup memang sulit. Tapi akan lebih mudah jika kita memilih untuk berpikir, bukan hanya bereaksi.

Leave a reply


IKLAN
ROPINDO - Solusi Hemat Energi untuk Gedung

Solusi Hemat Energi untuk Gedung.
Sedang mencari sistem yang mudah, hemat biaya, hemat energi, ramah lingkungan, dan revolusioner?
Anda baru saja menemukannya: ROPINDO.
ROPINDO menghadirkan Building Energy Management Systems (BEMS) inovatif yang cocok untuk semua jenis bangunan - yang telah terbukti menurunkan biaya listrik secara signifikan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.

Kunjungi Website
Hubungi via WhatsApp


DUKUNG DUS

Dukung misi kami menghadirkan konten edukatif, reflektif, dan penuh semangat positif.
Anda bisa berdonasi langsung melalui tombol kontribusi Google di bawah ini.

DUKUNG DUS

Dukung misi kami menghadirkan konten edukatif, reflektif, dan penuh semangat positif.
Anda bisa berdonasi langsung melalui tombol kontribusi Google di bawah ini.

Tetap terinformasi dengan berita positif dan inspiratif.

Bersedia untuk menerima informasi dan berita dari DUS.ID melalui email. Untuk informasi lebih lanjut, silakan tinjau Kebijakan Privasi

DUS Channel
Search
RANDOM
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...