
Hidup memang sulit. Tapi kesulitan itu bukanlah musuh utama. Musuh yang lebih berbahaya adalah ketika kita kehilangan arah, kehilangan kepekaan, dan kehilangan kemampuan untuk membedakan mana yang masuk akal dan mana yang tidak.
Di tengah dunia yang makin kompleks, cepat, dan bising, kita tidak selalu butuh jawaban instan atau gelar tinggi. Yang kita butuhkan lebih dulu adalah sesuatu yang sederhana tapi langka: common sense — akal sehat.
Akal sehat bukan soal IQ, bukan soal status sosial, dan bukan pula soal siapa yang paling vokal. Ia adalah kemampuan untuk berpikir jernih, menimbang logika dasar, dan bertindak dengan nalar. Ia adalah kompas hidup yang membimbing kita melewati kabut informasi, jebakan emosi, dan tekanan sosial.
Tanpa common sense, kita mudah tersesat. Kita bisa jadi pintar tapi tetap bodoh dalam keputusan. Kita bisa tahu kebenaran tapi tetap bebal dalam sikap. Kita bisa punya rencana tapi tetap malas bertindak. Kita bisa punya niat baik tapi tetap tidak disiplin dalam pelaksanaannya.
Empat artikel sebelumnya telah membedah akar-akar kesulitan hidup:
Kini, kita sampai pada simpulnya. Artikel ini bukan hanya penutup, tapi penyintesis. Tidak datang membawa vonis, tapi menawarkan arah. Karena jika empat masalah itu adalah gejala, maka kehilangan common sense adalah penyakit utamanya.
Dan kabar baiknya: common sense bukanlah anugerah yang hanya dimiliki segelintir orang. Ia bisa dilatih. Ia bisa dibangun. Ia bisa menjadi kebiasaan.
Maka mari kita gali bersama: apa sebenarnya common sense itu? Mengapa ia begitu penting? Dan bagaimana kita bisa menjadikannya kompas hidup di tengah dunia yang makin rumit?
Common sense sering dianggap sebagai sesuatu yang “sudah seharusnya dimiliki semua orang.” Padahal, justru karena asumsi itulah banyak orang tidak pernah benar-benar melatihnya. Akal sehat bukanlah insting bawaan, melainkan hasil dari proses berpikir yang jernih, pengalaman yang diolah, dan keberanian untuk bertanya: “Masuk akal atau tidak?”
Ia bukan soal kecerdasan akademik, melainkan kecerdasan praktis. Bukan soal tahu banyak, tapi tahu kapan harus berpikir. Orang yang punya common sense tidak selalu punya jawaban, tapi ia tahu kapan harus berhenti, menimbang, dan bertanya. Ia tidak terjebak pada ego ingin terlihat pintar, tapi fokus pada kejelasan dan relevansi.
Kita sering melihat orang yang punya gelar tinggi tapi tetap menyebarkan hoaks. Atau orang yang punya jabatan tapi tetap mengambil keputusan absurd. Ini bukan soal pendidikan formal — ini soal akal sehat yang tidak pernah dilatih.
Dan kabar baiknya: akal sehat bisa dibentuk. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang konsisten:
Akal sehat adalah kebiasaan logis yang bisa dilatih, bukan privilese yang hanya dimiliki segelintir orang. Dan dalam dunia yang makin bising, ia bukan hanya alat berpikir—ia adalah bentuk keberanian paling mendasar.
Common sense bukan hanya solusi — ia adalah fondasi. Tanpa akal sehat, empat masalah utama yang telah dibahas dalam serial ini bukan hanya bertahan, tapi berkembang biak. Kita tidak hanya mengulangi kesalahan, tapi mewariskannya. Dan hidup yang sudah sulit menjadi tak tertolong.
Mari kita lihat bagaimana kehilangan common sense memperparah setiap masalah:
Akal sehat bukan hanya benang merah yang menghubungkan keempat masalah ini — ia adalah simpul yang bisa menguraikannya. Ia tidak menjanjikan hidup yang mudah, tapi menjamin kita tidak terus mengulang kesalahan yang sama.
Dan dalam masyarakat yang makin bising, akal sehat adalah bentuk keberanian: keberanian untuk berpikir jernih, untuk bertanya, untuk berubah.
Ironisnya, common sense adalah hal yang paling dibutuhkan dalam hidup, tapi paling sering diabaikan. Bukan karena kita tidak tahu pentingnya, tapi karena ada banyak jebakan psikologis dan sosial yang membuat akal sehat terpinggirkan.
Banyak orang merasa cukup hanya dengan “pernah dengar” atau “sudah tahu sedikit.” Padahal, pengetahuan parsial sering kali lebih berbahaya daripada ketidaktahuan total.
Ketika kita terlalu percaya diri, kita berhenti belajar. Kita menolak koreksi. Kita merasa cukup dengan pemahaman dangkal.
Akal sehat justru tumbuh dari kesadaran bahwa kita bisa salah, dan bahwa berpikir ulang bukan kelemahan, tapi kekuatan.
Dalam banyak komunitas, berpikir kritis dianggap mengganggu harmoni. Bertanya dianggap tidak sopan. Berbeda pendapat dianggap pembangkangan.
Groupthink membuat kita menyesuaikan diri dengan mayoritas, bahkan ketika mayoritas salah.
Akal sehat menantang ini. Ia tidak anti-sosial, tapi anti-kepatuhan buta. Ia mengajarkan bahwa berpikir mandiri bukan ancaman, tapi kontribusi.
Kita cenderung mencari informasi yang sesuai dengan keyakinan kita, bukan yang menguji atau memperluasnya.
Ini membuat kita hidup dalam gelembung kognitif, di mana semua yang kita lihat hanya memperkuat apa yang sudah kita percaya.
Akal sehat memaksa kita keluar dari gelembung itu. Ia mendorong kita untuk bertanya: “Apakah ini benar, atau hanya nyaman?”
Berpikir itu melelahkan. Menimbang itu butuh waktu. Dan dalam dunia yang serba cepat, kita tergoda untuk memilih yang instan.
Akal sehat sering kalah oleh emosi, impuls, dan rasa ingin cepat selesai.
Tapi justru di tengah kecepatan itulah, akal sehat menjadi penyeimbang. Ia memberi jeda, memberi ruang, dan memberi arah.
Di banyak lingkungan, akal sehat tidak diajarkan, tidak dihargai, bahkan kadang ditertawakan.
Orang yang bertanya dianggap sok tahu. Orang yang menimbang dianggap lamban.
Padahal, masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang berpikir. Dan akal sehat adalah fondasi dari literasi sosial, politik, dan ekonomi.
Akal sehat bukan teori abstrak. Ia hidup dalam keputusan sehari-hari — dalam cara kita menyerap informasi, merespons situasi, dan memilih tindakan. Ketika akal sehat absen, absurditas menjadi norma. Dan yang lebih mengkhawatirkan: absurditas itu sering dianggap wajar karena sudah terlalu sering terjadi.
Berikut beberapa contoh yang menunjukkan betapa seriusnya krisis common sense di sekitar kita:
Contoh-contoh ini bukan untuk menghakimi, tapi untuk menunjukkan bahwa akal sehat bukan hal sepele. Ia adalah pelindung dari keputusan buruk, penyeimbang dari emosi sesaat, dan penjaga dari absurditas yang merusak.
Common sense tidak tumbuh dari seminar, gelar, atau status sosial. Ia tumbuh dari kebiasaan sehari-hari yang sederhana tapi konsisten. Dan karena ia bukan bawaan lahir, maka siapa pun bisa melatihnya — asal mau.
Berikut beberapa langkah kecil yang bisa kita lakukan untuk membangun akal sehat sebagai kebiasaan hidup:
Melatih akal sehat bukan proyek besar. Ia adalah kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari. Dan dalam dunia yang makin cepat, melambat untuk berpikir adalah bentuk keberanian.
Hidup memang sulit. Tapi akan jauh lebih sulit jika kita berjalan tanpa arah.
Kita bisa punya niat baik, tapi tanpa akal sehat, niat itu bisa berubah jadi bumerang. Kita bisa punya akses ke informasi, tapi tanpa akal sehat, informasi itu bisa menyesatkan. Kita bisa punya semangat, tapi tanpa akal sehat, semangat itu bisa membabi buta.
Common sense adalah kompas hidup. Ia tidak menjanjikan jalan yang mudah, tapi membantu kita memilih jalan yang masuk akal. Ia tidak membuat kita selalu benar, tapi mencegah kita terus salah. Ia tidak menghapus kesulitan, tapi memberi arah agar kita tidak tersesat di dalamnya.
Dan dalam dunia yang makin kompleks — dengan informasi yang membanjiri, opini yang bersaing, dan tekanan yang datang dari segala arah—akal sehat bukan lagi sekadar kelebihan. Ia adalah kebutuhan.
Empat artikel sebelumnya telah menunjukkan bahwa:
Dan kini kita tahu: tanpa common sense, semua itu akan terus berulang.
Karena akal sehat bukan hanya solusi — ia adalah fondasi. Ia adalah titik balik. Ia adalah keberanian untuk berpikir jernih di tengah kabut.
“Hidup memang sulit, tapi akan lebih mudah jika kita menjadikan common sense sebagai kompas hidup.”
Karena tanpa akal sehat, kita bukan hanya kehilangan arah — kita kehilangan kendali atas hidup itu sendiri.
Serial Hidup Memang Sulit bukan sekadar kumpulan artikel. Ia adalah perjalanan reflektif yang mengajak kita melihat kesulitan hidup bukan sebagai kutukan, tapi sebagai medan latihan.
Dari bodoh yang menolak belajar, bebal yang menolak koreksi, malas yang menunda langkah, hingga tidak disiplin yang gagal menjaga komitmen — semua itu adalah cermin dari pilihan-pilihan kecil yang kita buat setiap hari.
Dan di ujung perjalanan, kita sampai pada simpulnya: common sense.
Akal sehat bukan solusi instan, tapi fondasi yang menyatukan semuanya. Ia adalah kompas yang membantu kita belajar tanpa tersesat, berubah tanpa tersandung ego, bergerak tanpa kehilangan arah, dan konsisten tanpa kehilangan kendali.
Hidup memang sulit. Tapi kita bisa memilih cara menghadapinya.
Kita bisa memilih untuk berpikir jernih, bertindak masuk akal, dan membangun kebiasaan yang sehat.
Kita bisa memilih untuk tidak menjadi korban dari kebodohan, kebebalan, kemalasan, dan ketidakdisiplinan.
Kita bisa memilih untuk menjadikan akal sehat sebagai gaya hidup — bukan karena kita ingin terlihat pintar, tapi karena kita ingin hidup lebih ringan, lebih bijak, dan lebih bertanggung jawab.
Karena pada akhirnya, hidup bukan soal siapa yang paling tahu, tapi siapa yang paling mau berpikir.
Bukan soal siapa yang paling keras bicara, tapi siapa yang paling jernih melihat.
Dan bukan soal siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling tepat.
Hidup memang sulit. Tapi akan lebih mudah jika kita memilih untuk berpikir, bukan hanya bereaksi.






