Broken English Advertising: Lucu, Gregetan, atau Merusak Branding?

⏱️ Bacaan: 10 menit, Editor: EZ.  

Bahasa adalah wajah sebuah brand. Ia bukan sekadar kumpulan kata, melainkan jendela pertama yang membuka persepsi konsumen terhadap profesionalitas, kredibilitas, dan identitas sebuah perusahaan. Di Indonesia, tren penggunaan bahasa Inggris dalam iklan sudah lama menjadi semacam “jalan pintas” untuk tampil modern dan global. Dari papan reklame di jalan raya hingga brosur properti di mal, kita sering menjumpai kata-kata Inggris yang disisipkan dengan harapan memberi kesan prestise.

Namun, di balik niat baik itu, sering muncul fenomena yang membuat pembaca justru mengernyitkan dahi atau tersenyum miris: Broken English Advertising. Kata-kata yang salah grammar, pilihan istilah yang tidak tepat, atau frasa yang terdengar janggal bagi penutur asli. Contoh klasiknya: “Want to Sold” yang seharusnya ditulis “Want to Sell” atau lebih ringkas lagi “For Sale”, serta “Contractor Mebel Furnish” yang lebih tepat diganti dengan “Custom Furniture Contractor” atau “Tailored Furniture Contractor”.

Fenomena ini menarik karena menghadirkan paradoks: di satu sisi, bahasa Inggris memang lebih ringkas dan efisien untuk iklan. Frasa seperti For Sale atau Grand Opening terasa singkat, kuat, dan universal. Di sisi lain, ketika penggunaannya keliru, efek ringkas itu hilang, digantikan oleh kesan tidak profesional, bahkan bisa merusak citra brand.

Pertanyaannya kemudian: apakah broken English dalam iklan hanya sekadar lucu dan menghibur, atau justru berpotensi merusak branding secara serius? Artikel ini akan mengajak Anda menyelami fenomena tersebut — dari contoh nyata, analisis linguistik, hingga dampak bisnis — dengan gaya yang ringan namun tajam.


Bagian 1: Fenomena Broken English Advertising

Fenomena ini bukanlah hal baru di Indonesia. Sejak bahasa Inggris dianggap sebagai simbol modernitas dan globalisasi, banyak brand berlomba-lomba menyisipkan kata-kata Inggris ke dalam iklan mereka. Tujuannya jelas: ingin terlihat keren, profesional, dan seolah-olah siap bersaing di pasar internasional. Namun, hasilnya sering kali jauh dari harapan. Alih-alih menambah nilai, penggunaan bahasa Inggris yang salah justru menimbulkan kesan janggal. Kata-kata yang dipilih tidak sesuai konteks, grammar berantakan, bahkan kadang maknanya melenceng.

Mengapa Bahasa Inggris Dipilih?
Ada beberapa alasan utama mengapa bahasa Inggris begitu populer di iklan lokal:

  • Prestise: Bahasa Inggris dianggap sebagai bahasa “kelas atas” yang memberi kesan modern dan global.
  • Efisiensi visual: Kata-kata Inggris biasanya lebih singkat dibandingkan bahasa Indonesia, sehingga lebih cocok untuk headline atau slogan.
  • Tren internasional: Banyak brand ingin meniru gaya komunikasi global agar terlihat relevan.

Paradoks yang Menarik.
Fenomena ini menghadirkan paradoks: di satu sisi, bahasa Inggris memang lebih ringkas dan efisien untuk iklan. Di sisi lain, ketika penggunaannya salah, efek ringkas itu hilang, digantikan oleh kesan tidak profesional. Hasilnya, iklan yang seharusnya meningkatkan citra brand justru membuat audiens tersenyum miris, merasa “gregetan”, atau bahkan meragukan kredibilitas perusahaan.


Bagian 2: Contoh Kasus Nyata

Fenomena broken English dalam iklan bukan hanya satu-dua kasus, melainkan tersebar luas di berbagai sektor: properti, jasa, retail, hingga produk konsumen sehari-hari. Apa yang akan ditampilkan di sini hanyalah sebagian kecil contoh dari banyak sekali iklan yang bisa kita temukan di jalan raya, brosur, media sosial, atau bahkan toko online. Menariknya, kesalahan sangat sering terjadi pada iklan yang dibagikan secara cepat di media sosial atau chat group. Di ruang digital yang serba instan ini, copywriting sering dibuat tanpa proses editing yang matang, sehingga kesalahan grammar maupun pilihan kata lebih mudah lolos dan langsung tersebar luas.

Iklan Properti.
Salah satu contoh paling sering ditemui adalah tulisan “Want to Sold” pada iklan rumah atau apartemen. Maksudnya jelas: properti tersebut mau dijual. Namun, bentuk ini salah karena sold adalah kata kerja bentuk lampau. Versi yang benar adalah “Want to Sell” (mau menjual) atau lebih ringkas lagi “For Sale” (dijual). Dengan perbaikan ini, pesan iklan menjadi lebih profesional dan mudah dipahami.

Iklan Kontraktor.
Ungkapan “Contractor Mebel Furnish” juga sering muncul. Secara ejaan memang benar, tetapi susunan kata dan pilihan istilahnya tidak tepat. Kata furnish biasanya digunakan sebagai kata kerja (melengkapi/mebelisasi), bukan kata benda. Untuk iklan jasa, lebih natural menggunakan istilah “Custom Furniture Contractor” atau “Tailored Furniture Contractor”. Ungkapan ini lebih jelas menunjukkan bahwa kontraktor menerima pembuatan furnitur pesanan khusus, bukan sekadar menjual produk jadi.

Iklan Retail dan Produk Konsumen.
Contoh lain yang sering kita lihat adalah slogan seperti “Best Quality Number One”. Ungkapan ini terdengar redundan karena “best” dan “number one” sudah memiliki makna yang sama. Ada juga slogan “Cheap but Luxury” yang kontradiktif: murah tapi mewah. Lebih jauh lagi, kesalahan sering muncul di body copy, misalnya kalimat promosi panjang yang penuh dengan grammar salah atau struktur kalimat yang tidak idiomatis. Alih-alih meyakinkan, copywriting seperti ini justru menimbulkan kebingungan dan kesan tidak profesional.

Kesimpulan dari Kasus Nyata.
Contoh-contoh di atas hanyalah sebagian kecil dari fenomena ‘broken English advertising’ yang lebih luas. Kesalahan grammar, pilihan kata yang tidak idiomatis, slogan yang kontradiktif, hingga copywriting yang berantakan membuat iklan kehilangan daya tarik dan kredibilitas. Dan karena iklan di media sosial atau chat group bisa menyebar dengan cepat tanpa filter editorial, dampaknya menjadi lebih besar: kesalahan kecil langsung terlihat oleh banyak orang, memperkuat kesan tidak profesional pada brand.


Bagian 3: Efisiensi Visual — Mengapa Bahasa Inggris Lebih Ringkas di Iklan

Dalam dunia periklanan, kecepatan menangkap pesan adalah segalanya. Audiens yang melihat billboard di jalan raya atau banner digital di media sosial hanya punya waktu beberapa detik untuk memahami maksud iklan. Di sinilah bahasa Inggris sering dianggap lebih unggul dibandingkan bahasa Indonesia: ringkas, padat, dan langsung ke inti.

Banyak pengiklan memilih bahasa Inggris bukan semata-mata karena prestise, tetapi karena alasan praktis. Kata-kata Inggris biasanya lebih pendek dan idiomatis, sehingga lebih mudah dipasang di ruang visual yang terbatas. Sebuah frasa singkat bisa menyampaikan pesan yang jelas tanpa harus memakan banyak ruang desain.

  • Perbandingan Frasa Promosi:
    • Grand Opening, → dua kata, idiomatis, langsung memberi kesan acara besar.
    • Pembukaan Besar-Besaran, → lebih panjang, terasa formal, dan bila dijadikan headline visual justru bisa terasa lucu dan janggal.
  • Perbandingan Frasa Diskon.
    • Sale, → satu kata, universal, langsung memicu asosiasi belanja murah. Istilah ini unik karena tidak ada padanan tunggal dalam bahasa Indonesia. “Diskon” berasal dari discount (lebih spesifik ke potongan harga), “Harga Spesial” dari special price (biasanya untuk item tertentu), “Obral” (kata asli Indonesia, tapi nuansanya sering dianggap kurang elegan), dan “Promo” (cakupannya lebih luas). Tidak ada yang sekuat dan se-idiomatis Sale sebagai headline visual.
    • Harga Spesial, → lebih panjang, butuh ruang lebih besar di desain, dan kurang memberi kesan instan.
  • Perbandingan Frasa Ajakan.
    • Join Now → singkat, ajakan langsung, mudah dipahami.
    • Gabung Sekarang → lebih panjang, butuh ruang lebih besar di desain.
Keunggulan Bahasa Inggris dalam Iklan
  • Efisiensi Ruang Visual.
    Kata-kata dalam bahasa Inggris cenderung lebih pendek dibandingkan padanan bahasa Indonesia. Misalnya Sale hanya satu kata, sementara padanannya bisa berupa “Harga Spesial” atau “Obral Besar”. Perbedaan panjang ini membuat bahasa Inggris lebih hemat ruang dan lebih mudah ditampilkan di billboard, banner digital, atau brosur kecil.
  • Kekuatan Idiomatis dan Familiaritas Global.
    Frasa seperti Grand Opening, Sale, atau For Lease sudah menjadi idiom global yang langsung dipahami audiens lintas negara. Bahkan di Indonesia, kata-kata ini sudah akrab di telinga konsumen, sehingga tidak perlu penjelasan tambahan. Hal ini memberi kesan modern, internasional, dan mengikuti standar global.
  • Keterbacaan Cepat dan Dampak Visual.
    Audiens hanya punya beberapa detik untuk menangkap pesan iklan. Bahasa Inggris dengan frasa singkat seperti Join Now atau Limited Offer langsung memicu asosiasi tertentu tanpa perlu kalimat panjang. Efek visualnya lebih kuat karena teks ringkas memberi ruang bagi desain grafis untuk menonjol.
  • Prestise dan Persepsi Modernitas.
    Penggunaan bahasa Inggris sering diasosiasikan dengan brand yang modern, profesional, dan berkelas internasional. Kata sederhana seperti Sale atau Promo dalam bahasa Inggris bisa memberi kesan lebih “up to date” dibanding padanan bahasa Indonesia yang panjang atau terasa tradisional.
  • Fleksibilitas Makna.
    Beberapa istilah Inggris memiliki cakupan makna yang lebih luas dan fleksibel. Contohnya Sale bisa berarti obral, diskon, atau penjualan khusus, sementara bahasa Indonesia harus memilih antara “Diskon”, “Obral”, atau “Harga Spesial”. Fleksibilitas ini membuat kata-kata Inggris lebih praktis untuk berbagai konteks iklan.

Efisiensi visual bukanlah keunggulan eksklusif bahasa Inggris. Masalah muncul ketika pengiklan mencoba meniru gaya bahasa Inggris tanpa memahami kaidahnya, sehingga hasilnya justru menjadi broken English. Niat untuk ringkas justru berbalik menjadi kontraproduktif. Alih-alih terlihat profesional, iklan malah menimbulkan kebingungan dan kesan tidak serius.


Bagian 4: Dampak Branding — Ketika Bahasa Menentukan Citra

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga bagian dari identitas merek. Dalam iklan, setiap kata yang dipilih akan membentuk persepsi konsumen terhadap brand. Penggunaan bahasa Inggris yang ringkas dan idiomatis memang bisa memberi kesan modern, profesional, dan global. Namun, kesalahan dalam penggunaannya justru berisiko besar terhadap citra merek.

  • Dampak Positif (Jika Tepat):
    • Memberi kesan internasional: brand terlihat mengikuti standar global.
    • Meningkatkan kredibilitas: penggunaan frasa idiomatis seperti Grand Opening atau Sale membuat iklan terasa profesional.
    • Memperkuat positioning: bahasa Inggris yang ringkas membantu brand tampil lebih modern dan relevan.
  • Dampak Negatif (Jika Salah):
    • Menurunkan kepercayaan: frasa broken English seperti Want to Sold membuat brand terlihat tidak serius.
    • Menimbulkan kebingungan: audiens bisa salah paham apakah iklan menawarkan produk, mencari penyewa, atau sekadar salah tulis.
    • Mengurangi prestise: alih-alih terlihat modern, kesalahan bahasa justru memberi kesan amatir dan tidak profesional.
    • Efek jangka panjang: konsumen bisa mengaitkan brand dengan kualitas rendah, sehingga loyalitas menurun.

Kesalahan bahasa dalam iklan bukan hanya soal tata bahasa, melainkan soal citra. Dalam branding, detail kecil bisa berakibat besar: konsumen kehilangan kepercayaan, brand kehilangan prestise. Karena itu, penguasaan bahasa — baik Inggris maupun Indonesia — harus menjadi perhatian utama dalam strategi komunikasi pemasaran agar pesan yang disampaikan tidak hanya jelas, tetapi juga membangun reputasi yang kuat.


Bagian 5: Solusi dan Rekomendasi — Menghindari Jebakan Broken English

Setelah melihat bagaimana bahasa Inggris bisa memberi keunggulan visual sekaligus risiko besar bagi branding, langkah berikutnya adalah memastikan penggunaan bahasa dalam iklan benar-benar mendukung citra profesional. Berikut beberapa solusi dan rekomendasi yang bisa diterapkan:

  1. Gunakan Bahasa Inggris yang Idiomatis.
    • Pilih frasa yang sudah mapan dan umum dipakai secara global, seperti Sale, Grand Opening, For Rent, atau Join Now.
    • Hindari terjemahan literal yang tidak idiomatis, misalnya Want to Sold atau Open the Shoes.
  1. Pertahankan Konsistensi Bahasa.
    • Jika headline menggunakan bahasa Inggris, pastikan seluruh elemen visual mendukung gaya tersebut.
    • Jangan mencampur bahasa Inggris dan Indonesia secara acak, karena bisa menimbulkan kesan tidak profesional.
  1. Manfaatkan Padanan Ringkas dalam Bahasa Indonesia.
    • Ingat bahwa bahasa Indonesia juga punya bentuk ringkas yang efektif, seperti “Rumah Dijual”, “Rumah Disewakan”, atau “Gabung Sekarang”.
    • Gunakan padanan ini bila target audiens lebih lokal, agar pesan tetap jelas dan natural.
  1. Lakukan Proofreading dan Audit Bahasa.
    • Sebelum iklan dipublikasikan, lakukan pemeriksaan bahasa oleh editor atau konsultan yang memahami idiom Inggris.
    • Audit bahasa secara rutin untuk memastikan tidak ada frasa yang janggal atau salah kaprah.
  1. Sesuaikan dengan Target Audiens.
    • Untuk audiens internasional, bahasa Inggris idiomatis lebih efektif.
    • Untuk audiens lokal, bahasa Indonesia ringkas bisa lebih tepat, terutama bila pesan ingin terasa dekat dan natural.

Dengan menerapkan langkah-langkah ini, brand dapat memanfaatkan keunggulan visual bahasa Inggris tanpa terjebak dalam broken English yang merusak citra. Kuncinya bukan sekadar memilih bahasa Inggris atau Indonesia, melainkan memastikan bahwa bahasa yang digunakan benar, idiomatis, dan sesuai konteks audiens. Ketika bahasa dipakai dengan tepat, iklan tidak hanya menyampaikan pesan secara jelas, tetapi juga memperkuat reputasi dan kepercayaan konsumen terhadap brand.


Penutup: Bahasa sebagai Investasi Branding

Iklan bukan sekadar soal visual yang menarik, tetapi juga soal bahasa yang tepat. Setiap kata yang dipilih akan membentuk persepsi konsumen terhadap brand, baik dalam hal profesionalitas, kredibilitas, maupun daya tarik. Bahasa Inggris memang menawarkan keunggulan dalam hal efisiensi visual, idiomatis, dan kesan modern, tetapi penggunaannya harus benar dan idiomatis agar tidak berubah menjadi broken English yang merusak citra.

Di sisi lain, bahasa Indonesia tetap memiliki kekuatan tersendiri. Frasa ringkas seperti “Rumah Dijual” atau “Gabung Sekarang” menunjukkan bahwa komunikasi efektif tidak selalu bergantung pada bahasa asing. Kuncinya adalah konsistensi, kejelasan, dan relevansi dengan target audiens.

Dengan memahami keunggulan dan risiko dari setiap pilihan bahasa, brand dapat menyusun strategi komunikasi yang lebih cerdas. Iklan yang baik bukan hanya menyampaikan pesan, tetapi juga membangun reputasi, menumbuhkan kepercayaan, dan memperkuat hubungan dengan konsumen. Pada akhirnya, bahasa yang tepat adalah investasi jangka panjang bagi citra dan keberlangsungan sebuah brand.

Leave a reply


IKLAN
ROPINDO - Solusi Hemat Energi untuk Gedung

Solusi Hemat Energi untuk Gedung.
Sedang mencari sistem yang mudah, hemat biaya, hemat energi, ramah lingkungan, dan revolusioner?
Anda baru saja menemukannya: ROPINDO.
ROPINDO menghadirkan Building Energy Management Systems (BEMS) inovatif yang cocok untuk semua jenis bangunan - yang telah terbukti menurunkan biaya listrik secara signifikan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.

Kunjungi Website
Hubungi via WhatsApp


DUKUNG DUS

Dukung misi kami menghadirkan konten edukatif, reflektif, dan penuh semangat positif.
Anda bisa berdonasi langsung melalui tombol kontribusi Google di bawah ini.

DUKUNG DUS

Dukung misi kami menghadirkan konten edukatif, reflektif, dan penuh semangat positif.
Anda bisa berdonasi langsung melalui tombol kontribusi Google di bawah ini.

Tetap terinformasi dengan berita positif dan inspiratif.

Bersedia untuk menerima informasi dan berita dari DUS.ID melalui email. Untuk informasi lebih lanjut, silakan tinjau Kebijakan Privasi

DUS Channel
Search
RANDOM
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...