
Bahasa adalah wajah sebuah brand. Ia bukan sekadar kumpulan kata, melainkan jendela pertama yang membuka persepsi konsumen terhadap profesionalitas, kredibilitas, dan identitas sebuah perusahaan. Di Indonesia, tren penggunaan bahasa Inggris dalam iklan sudah lama menjadi semacam “jalan pintas” untuk tampil modern dan global. Dari papan reklame di jalan raya hingga brosur properti di mal, kita sering menjumpai kata-kata Inggris yang disisipkan dengan harapan memberi kesan prestise.
Namun, di balik niat baik itu, sering muncul fenomena yang membuat pembaca justru mengernyitkan dahi atau tersenyum miris: Broken English Advertising. Kata-kata yang salah grammar, pilihan istilah yang tidak tepat, atau frasa yang terdengar janggal bagi penutur asli. Contoh klasiknya: “Want to Sold” yang seharusnya ditulis “Want to Sell” atau lebih ringkas lagi “For Sale”, serta “Contractor Mebel Furnish” yang lebih tepat diganti dengan “Custom Furniture Contractor” atau “Tailored Furniture Contractor”.
Fenomena ini menarik karena menghadirkan paradoks: di satu sisi, bahasa Inggris memang lebih ringkas dan efisien untuk iklan. Frasa seperti For Sale atau Grand Opening terasa singkat, kuat, dan universal. Di sisi lain, ketika penggunaannya keliru, efek ringkas itu hilang, digantikan oleh kesan tidak profesional, bahkan bisa merusak citra brand.
Pertanyaannya kemudian: apakah broken English dalam iklan hanya sekadar lucu dan menghibur, atau justru berpotensi merusak branding secara serius? Artikel ini akan mengajak Anda menyelami fenomena tersebut — dari contoh nyata, analisis linguistik, hingga dampak bisnis — dengan gaya yang ringan namun tajam.
Fenomena ini bukanlah hal baru di Indonesia. Sejak bahasa Inggris dianggap sebagai simbol modernitas dan globalisasi, banyak brand berlomba-lomba menyisipkan kata-kata Inggris ke dalam iklan mereka. Tujuannya jelas: ingin terlihat keren, profesional, dan seolah-olah siap bersaing di pasar internasional. Namun, hasilnya sering kali jauh dari harapan. Alih-alih menambah nilai, penggunaan bahasa Inggris yang salah justru menimbulkan kesan janggal. Kata-kata yang dipilih tidak sesuai konteks, grammar berantakan, bahkan kadang maknanya melenceng.
Mengapa Bahasa Inggris Dipilih?
Ada beberapa alasan utama mengapa bahasa Inggris begitu populer di iklan lokal:
Paradoks yang Menarik.
Fenomena ini menghadirkan paradoks: di satu sisi, bahasa Inggris memang lebih ringkas dan efisien untuk iklan. Di sisi lain, ketika penggunaannya salah, efek ringkas itu hilang, digantikan oleh kesan tidak profesional. Hasilnya, iklan yang seharusnya meningkatkan citra brand justru membuat audiens tersenyum miris, merasa “gregetan”, atau bahkan meragukan kredibilitas perusahaan.
Fenomena broken English dalam iklan bukan hanya satu-dua kasus, melainkan tersebar luas di berbagai sektor: properti, jasa, retail, hingga produk konsumen sehari-hari. Apa yang akan ditampilkan di sini hanyalah sebagian kecil contoh dari banyak sekali iklan yang bisa kita temukan di jalan raya, brosur, media sosial, atau bahkan toko online. Menariknya, kesalahan sangat sering terjadi pada iklan yang dibagikan secara cepat di media sosial atau chat group. Di ruang digital yang serba instan ini, copywriting sering dibuat tanpa proses editing yang matang, sehingga kesalahan grammar maupun pilihan kata lebih mudah lolos dan langsung tersebar luas.
Iklan Properti.
Salah satu contoh paling sering ditemui adalah tulisan “Want to Sold” pada iklan rumah atau apartemen. Maksudnya jelas: properti tersebut mau dijual. Namun, bentuk ini salah karena sold adalah kata kerja bentuk lampau. Versi yang benar adalah “Want to Sell” (mau menjual) atau lebih ringkas lagi “For Sale” (dijual). Dengan perbaikan ini, pesan iklan menjadi lebih profesional dan mudah dipahami.
Iklan Kontraktor.
Ungkapan “Contractor Mebel Furnish” juga sering muncul. Secara ejaan memang benar, tetapi susunan kata dan pilihan istilahnya tidak tepat. Kata furnish biasanya digunakan sebagai kata kerja (melengkapi/mebelisasi), bukan kata benda. Untuk iklan jasa, lebih natural menggunakan istilah “Custom Furniture Contractor” atau “Tailored Furniture Contractor”. Ungkapan ini lebih jelas menunjukkan bahwa kontraktor menerima pembuatan furnitur pesanan khusus, bukan sekadar menjual produk jadi.
Iklan Retail dan Produk Konsumen.
Contoh lain yang sering kita lihat adalah slogan seperti “Best Quality Number One”. Ungkapan ini terdengar redundan karena “best” dan “number one” sudah memiliki makna yang sama. Ada juga slogan “Cheap but Luxury” yang kontradiktif: murah tapi mewah. Lebih jauh lagi, kesalahan sering muncul di body copy, misalnya kalimat promosi panjang yang penuh dengan grammar salah atau struktur kalimat yang tidak idiomatis. Alih-alih meyakinkan, copywriting seperti ini justru menimbulkan kebingungan dan kesan tidak profesional.
Kesimpulan dari Kasus Nyata.
Contoh-contoh di atas hanyalah sebagian kecil dari fenomena ‘broken English advertising’ yang lebih luas. Kesalahan grammar, pilihan kata yang tidak idiomatis, slogan yang kontradiktif, hingga copywriting yang berantakan membuat iklan kehilangan daya tarik dan kredibilitas. Dan karena iklan di media sosial atau chat group bisa menyebar dengan cepat tanpa filter editorial, dampaknya menjadi lebih besar: kesalahan kecil langsung terlihat oleh banyak orang, memperkuat kesan tidak profesional pada brand.
Dalam dunia periklanan, kecepatan menangkap pesan adalah segalanya. Audiens yang melihat billboard di jalan raya atau banner digital di media sosial hanya punya waktu beberapa detik untuk memahami maksud iklan. Di sinilah bahasa Inggris sering dianggap lebih unggul dibandingkan bahasa Indonesia: ringkas, padat, dan langsung ke inti.
Banyak pengiklan memilih bahasa Inggris bukan semata-mata karena prestise, tetapi karena alasan praktis. Kata-kata Inggris biasanya lebih pendek dan idiomatis, sehingga lebih mudah dipasang di ruang visual yang terbatas. Sebuah frasa singkat bisa menyampaikan pesan yang jelas tanpa harus memakan banyak ruang desain.
Efisiensi visual bukanlah keunggulan eksklusif bahasa Inggris. Masalah muncul ketika pengiklan mencoba meniru gaya bahasa Inggris tanpa memahami kaidahnya, sehingga hasilnya justru menjadi broken English. Niat untuk ringkas justru berbalik menjadi kontraproduktif. Alih-alih terlihat profesional, iklan malah menimbulkan kebingungan dan kesan tidak serius.
Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga bagian dari identitas merek. Dalam iklan, setiap kata yang dipilih akan membentuk persepsi konsumen terhadap brand. Penggunaan bahasa Inggris yang ringkas dan idiomatis memang bisa memberi kesan modern, profesional, dan global. Namun, kesalahan dalam penggunaannya justru berisiko besar terhadap citra merek.
Kesalahan bahasa dalam iklan bukan hanya soal tata bahasa, melainkan soal citra. Dalam branding, detail kecil bisa berakibat besar: konsumen kehilangan kepercayaan, brand kehilangan prestise. Karena itu, penguasaan bahasa — baik Inggris maupun Indonesia — harus menjadi perhatian utama dalam strategi komunikasi pemasaran agar pesan yang disampaikan tidak hanya jelas, tetapi juga membangun reputasi yang kuat.
Setelah melihat bagaimana bahasa Inggris bisa memberi keunggulan visual sekaligus risiko besar bagi branding, langkah berikutnya adalah memastikan penggunaan bahasa dalam iklan benar-benar mendukung citra profesional. Berikut beberapa solusi dan rekomendasi yang bisa diterapkan:
Dengan menerapkan langkah-langkah ini, brand dapat memanfaatkan keunggulan visual bahasa Inggris tanpa terjebak dalam broken English yang merusak citra. Kuncinya bukan sekadar memilih bahasa Inggris atau Indonesia, melainkan memastikan bahwa bahasa yang digunakan benar, idiomatis, dan sesuai konteks audiens. Ketika bahasa dipakai dengan tepat, iklan tidak hanya menyampaikan pesan secara jelas, tetapi juga memperkuat reputasi dan kepercayaan konsumen terhadap brand.
Iklan bukan sekadar soal visual yang menarik, tetapi juga soal bahasa yang tepat. Setiap kata yang dipilih akan membentuk persepsi konsumen terhadap brand, baik dalam hal profesionalitas, kredibilitas, maupun daya tarik. Bahasa Inggris memang menawarkan keunggulan dalam hal efisiensi visual, idiomatis, dan kesan modern, tetapi penggunaannya harus benar dan idiomatis agar tidak berubah menjadi broken English yang merusak citra.
Di sisi lain, bahasa Indonesia tetap memiliki kekuatan tersendiri. Frasa ringkas seperti “Rumah Dijual” atau “Gabung Sekarang” menunjukkan bahwa komunikasi efektif tidak selalu bergantung pada bahasa asing. Kuncinya adalah konsistensi, kejelasan, dan relevansi dengan target audiens.
Dengan memahami keunggulan dan risiko dari setiap pilihan bahasa, brand dapat menyusun strategi komunikasi yang lebih cerdas. Iklan yang baik bukan hanya menyampaikan pesan, tetapi juga membangun reputasi, menumbuhkan kepercayaan, dan memperkuat hubungan dengan konsumen. Pada akhirnya, bahasa yang tepat adalah investasi jangka panjang bagi citra dan keberlangsungan sebuah brand.






