
Di era yang serba digital ini, tak bisa dimungkiri kalau gerakan body positivity telah menjadi bagian tak terpisahkan dari percakapan kita sehari-hari. Pesan untuk mencintai diri sendiri apa adanya sungguh kuat, dan itu hal yang baik. Secara psikologis, body positivity berakar pada gagasan untuk membangun citra tubuh yang positif, di mana setiap orang berhak merasa nyaman dengan diri sendiri tanpa terikat standar kecantikan.
Namun, ada bahaya tersembunyi yang mengintai ketika gerakan mulia ini disalahartikan dan berubah menjadi toxic positivity. Toxic positivity adalah keyakinan berlebihan bahwa di setiap situasi, seseorang harus mempertahankan pola pikir positif dan menolak emosi negatif, bahkan ketika ada masalah yang nyata. Dalam konteks body positivity, ini bisa sangat berbahaya. Ketika kita didorong untuk menerima tubuh “apa adanya” tanpa batas, kita berisiko menyangkal sinyal bahaya dari tubuh sendiri. Dengan kata lain, body positivity yang seharusnya menjadi wadah penerimaan diri, dapat berubah menjadi penyangkalan (denial) terhadap kesehatan.
Artikel ini bukan bertujuan untuk menentang gagasan mencintai tubuh sendiri, melainkan untuk mengajak kita semua melihat gerakan ini dengan kacamata yang lebih bijak. Akal sehat atau common sense adalah kompas yang kita butuhkan, bukan penyangkalan yang mengabaikan sinyal bahaya dari tubuh.

Seringkali, penerimaan diri disamakan dengan penyangkalan. Padahal, keduanya memiliki perbedaan mendasar yang sangat penting.
Penerimaan sejati akan selalu mendorong kita untuk menjadi lebih baik, sementara penyangkalan hanya akan menunda masalah hingga suatu saat nanti, dampaknya menjadi lebih serius.

Tanpa disadari, gerakan yang seharusnya memberdayakan ini bisa menciptakan jebakan yang menghambat kita untuk berkembang. Beberapa di antaranya yang paling umum adalah:

Lantas, bagaimana caranya agar kita bisa mencintai tubuh tanpa terjebak dalam penyangkalan? Jawabannya adalah dengan mengembangkan “body intelligence”, yaitu kecerdasan untuk memahami dan merespons sinyal dari tubuh kita dengan akal sehat.
Pada akhirnya, body positivity sejati adalah tentang penerimaan yang utuh, yang berani menghadapi kebenaran. Mencintai diri sendiri bukanlah izin untuk mengabaikan kebutuhan dasar tubuh, melainkan sebuah janji untuk merawatnya dengan sebaik-baiknya. Maka, pada dasarnya, mengabaikan kesehatan dengan dalih penerimaan diri bukanlah bentuk cinta, melainkan tindakan yang bertolak belakang dengan esensi sejati dari mencintai tubuh kita. Cinta yang sesungguhnya menuntut tanggung jawab dan keberanian untuk merawat, bukan menyangkal. Mari kita ciptakan gerakan yang tidak hanya menginspirasi orang untuk berani tampil apa adanya, tetapi juga mendorong mereka untuk hidup lebih sehat, bahagia, dan penuh vitalitas.






