Beyond Toxic Positivity: Mengapa Gerakan Body Positivity Butuh Akal Sehat, Bukan Penyangkalan

⏱️ Bacaan: 5 menit, Editor: EZ.  

Di era yang serba digital ini, tak bisa dimungkiri kalau gerakan body positivity telah menjadi bagian tak terpisahkan dari percakapan kita sehari-hari. Pesan untuk mencintai diri sendiri apa adanya sungguh kuat, dan itu hal yang baik. Secara psikologis, body positivity berakar pada gagasan untuk membangun citra tubuh yang positif, di mana setiap orang berhak merasa nyaman dengan diri sendiri tanpa terikat standar kecantikan.

Namun, ada bahaya tersembunyi yang mengintai ketika gerakan mulia ini disalahartikan dan berubah menjadi toxic positivity. Toxic positivity adalah keyakinan berlebihan bahwa di setiap situasi, seseorang harus mempertahankan pola pikir positif dan menolak emosi negatif, bahkan ketika ada masalah yang nyata. Dalam konteks body positivity, ini bisa sangat berbahaya. Ketika kita didorong untuk menerima tubuh “apa adanya” tanpa batas, kita berisiko menyangkal sinyal bahaya dari tubuh sendiri. Dengan kata lain, body positivity yang seharusnya menjadi wadah penerimaan diri, dapat berubah menjadi penyangkalan (denial) terhadap kesehatan.

Artikel ini bukan bertujuan untuk menentang gagasan mencintai tubuh sendiri, melainkan untuk mengajak kita semua melihat gerakan ini dengan kacamata yang lebih bijak. Akal sehat atau common sense adalah kompas yang kita butuhkan, bukan penyangkalan yang mengabaikan sinyal bahaya dari tubuh.


Bagian 1: Mengenal Perbedaan Mendasar – Penerimaan vs. Penyangkalan

Seringkali, penerimaan diri disamakan dengan penyangkalan. Padahal, keduanya memiliki perbedaan mendasar yang sangat penting.

  • Penerimaan (Acceptance) adalah sebuah proses yang jujur dan tulus. Ini berarti kita melihat dan mengakui kondisi tubuh kita apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, tanpa harus merasa benci atau malu. Penerimaan adalah langkah pertama untuk bisa menghargai tubuh, berterima kasih atas fungsinya, dan pada akhirnya, merawatnya.
  • Penyangkalan (Denial) adalah sebuah mekanisme pertahanan diri. Ini terjadi saat kita menolak fakta yang tidak nyaman tentang diri kita. Dalam konteks body positivity, penyangkalan bisa berupa sikap menolak saran medis tentang kesehatan, mengabaikan gejala yang muncul, atau berpura-pura bahwa tidak ada masalah yang perlu ditangani.

Penerimaan sejati akan selalu mendorong kita untuk menjadi lebih baik, sementara penyangkalan hanya akan menunda masalah hingga suatu saat nanti, dampaknya menjadi lebih serius.


Bagian 2: Jebakan-jebakan dalam Gerakan Body Positivity

Tanpa disadari, gerakan yang seharusnya memberdayakan ini bisa menciptakan jebakan yang menghambat kita untuk berkembang. Beberapa di antaranya yang paling umum adalah:

  1. “Doctor Shaming” dan Menganggap Saran Medis sebagai Hinaan: Pernahkah Anda melihat komentar di media sosial yang menganggap saran dari dokter atau ahli gizi sebagai bentuk “body shaming”? Ini adalah contoh nyata bagaimana penyangkalan berkedok body positivity bisa berbahaya. Saran medis, misalnya tentang menjaga berat badan ideal atau pola makan sehat, diberikan bukan untuk menghina bentuk tubuh Anda, melainkan untuk memastikan tubuh Anda berfungsi dengan optimal. Secara psikologis, penolakan ini sering kali didorong oleh disonansi kognitif, di mana kita merasa tidak nyaman saat keyakinan kita (“saya sehat”) bertentangan dengan bukti nyata (hasil pemeriksaan kesehatan). Mengabaikannya adalah cara termudah bagi otak untuk menyelesaikan ketidaknyamanan tersebut.
  1. Kapitalisme yang Mengintai: Perusahaan-perusahaan besar kerap memanfaatkan isu body positivity untuk mendulang keuntungan. Mereka meluncurkan produk dengan label “love your curves” atau “all bodies are beautiful”, tetapi di sisi lain, standar kecantikan yang tidak realistis tetap mereka promosikan melalui media lain. Ini adalah bentuk manipulasi yang membuat kita merasa cukup “dibeli”, padahal yang kita butuhkan adalah perubahan pola pikir yang sejati, bukan hanya produk.
  1. Fokus Berlebihan pada Ukuran, Melupakan Fungsi: Gerakan body positivity seringkali terlalu terfokus pada penerimaan ukuran tubuh tertentu. Padahal, kesehatan dan kebahagiaan sejati tidak hanya diukur dari berat badan atau lingkar pinggang. Bagaimana dengan kemampuan Anda untuk menaiki tangga tanpa merasa lelah? Atau bagaimana kualitas tidur Anda? Aspek-aspek fungsional inilah yang sesungguhnya menentukan kualitas hidup Anda. Dalam psikologi, fokus berlebihan pada estetika dapat membuat kita kehilangan embodiment, yaitu kesadaran dan hubungan kita dengan tubuh sebagai subjek yang berfungsi, bukan hanya objek yang dilihat. Penyangkalan terhadap penurunan fungsi tubuh adalah tanda nyata bahwa kita tidak benar-benar mencintai tubuh kita.

Bagian 3: Mengembangkan “Body Intelligence” dengan Akal Sehat

Lantas, bagaimana caranya agar kita bisa mencintai tubuh tanpa terjebak dalam penyangkalan? Jawabannya adalah dengan mengembangkan “body intelligence”, yaitu kecerdasan untuk memahami dan merespons sinyal dari tubuh kita dengan akal sehat.

  • Jujur pada Diri Sendiri: Mulailah dengan dialog reflektif. Tanyakan pada diri Anda: “Apakah ini penerimaan diri yang jujur, atau penyangkalan?” Pertanyaan sederhana ini bisa menjadi filter yang ampuh. Jika Anda tahu Anda tidak bisa lari sejauh dulu, jangan sebut itu “penerimaan”, sebut itu sebagai “sinyal untuk mulai bergerak lagi”.
  • Rayakan Fungsi, Bukan Hanya Estetika: Buatlah daftar hal-hal menakjubkan yang bisa dilakukan tubuh Anda hari ini. Misalnya, “Kakiku membawaku berjalan-jalan,” atau “Mataku melihat hal-hal indah.” Fokus pada fungsi akan mengalihkan pikiran Anda dari perbandingan yang tidak sehat. Ini adalah latihan praktis dari embodiment.
  • Jadikan Perawatan sebagai Bentuk Cinta: Anggaplah olahraga, makan sehat, atau pemeriksaan rutin ke dokter sebagai “love language” Anda kepada tubuh. Ini bukan lagi beban, melainkan sebuah tindakan cinta yang nyata dan tulus. Ubah filosofi Anda dari “Aku harus kurus” menjadi “Aku ingin lebih kuat dan sehat untuk menjalani hidup yang kuimpikan.” Konsep ini sejalan dengan self-compassion, di mana kita merespons kekurangan diri dengan kebaikan, bukan kritik.

Penutup: Merangkul Kebenaran demi Kebahagiaan Sejati

Pada akhirnya, body positivity sejati adalah tentang penerimaan yang utuh, yang berani menghadapi kebenaran. Mencintai diri sendiri bukanlah izin untuk mengabaikan kebutuhan dasar tubuh, melainkan sebuah janji untuk merawatnya dengan sebaik-baiknya. Maka, pada dasarnya, mengabaikan kesehatan dengan dalih penerimaan diri bukanlah bentuk cinta, melainkan tindakan yang bertolak belakang dengan esensi sejati dari mencintai tubuh kita. Cinta yang sesungguhnya menuntut tanggung jawab dan keberanian untuk merawat, bukan menyangkal. Mari kita ciptakan gerakan yang tidak hanya menginspirasi orang untuk berani tampil apa adanya, tetapi juga mendorong mereka untuk hidup lebih sehat, bahagia, dan penuh vitalitas.

3 Votes: 3 Upvotes, 0 Downvotes (3 Points)

Iklan

Leave a reply


IKLAN
ROPINDO - Solusi Hemat Energi untuk Gedung

Solusi Hemat Energi untuk Gedung.
Sedang mencari sistem yang mudah, hemat biaya, hemat energi, ramah lingkungan, dan revolusioner?
Anda baru saja menemukannya: ROPINDO.
ROPINDO menghadirkan Building Energy Management Systems (BEMS) inovatif yang cocok untuk semua jenis bangunan - yang telah terbukti menurunkan biaya listrik secara signifikan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.

Kunjungi Website
Hubungi via WhatsApp


DUKUNG DUS

Dukung misi kami menghadirkan konten edukatif, reflektif, dan penuh semangat positif.
Anda bisa berdonasi langsung melalui tombol kontribusi Google di bawah ini.

DUKUNG DUS

Dukung misi kami menghadirkan konten edukatif, reflektif, dan penuh semangat positif.
Anda bisa berdonasi langsung melalui tombol kontribusi Google di bawah ini.

Tetap terinformasi dengan berita positif dan inspiratif.

Bersedia untuk menerima informasi dan berita dari DUS.ID melalui email. Untuk informasi lebih lanjut, silakan tinjau Kebijakan Privasi

DUS Channel
Search
RANDOM
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...