Pada artikel sebelumnya, kita sudah membahas mengapa prinsip 3-2-1 backup menjadi standar emas dalam melindungi data digital: tiga salinan, dua media berbeda, dan simpan salah satu salinan di lokasi terpisah.
Cara melindungi privasi dan keamanan data Anda di era digital.
Pada artikel sebelumnya, kita sudah membahas mengapa prinsip 3-2-1 backup menjadi standar emas dalam melindungi data digital: tiga salinan, dua media berbeda, dan simpan salah satu salinan di lokasi terpisah.
Bayangkan suatu pagi Anda berkata, “Nanti saja saya backup.” Lalu, tanpa peringatan, ponsel dicopet di keramaian, atau laptop tiba-tiba jatuh dari meja dan harddisk rusak total. Dalam sekejap, semua foto
Bayangkan ini: ribuan investor di Indonesia kehilangan dana hingga Rp 2,75 triliun akibat kasus gagal bayar dan dugaan penipuan investasi yang melibatkan platform fintech lending Investree. Mantan CEO-nya, Adrian Gunadi,
Pernahkah Anda membuka kotak masuk e-mail dan menemukan pesan yang tidak diinginkan—iklan produk yang tidak relevan, tawaran pinjaman fantastis, atau bahkan penipuan berantai? Kita sering menyebutnya spam. Namun, pernahkah Anda
Di era serba digital ini, media sosial telah menjadi panggung raksasa tempat kita semua tampil. Dari unggahan foto liburan yang estetik hingga detail kehidupan sehari-hari yang tak terduga, kita kini
Pernahkah kamu merasa ada yang salah setelah membagikan sesuatu di media sosial? Mungkin kamu mengunggah foto saat sedang sakit, curhat tentang masalah pribadi dengan pasangan, atau bahkan memposting detail lokasi
Keamanan siber seringkali digambarkan sebagai pertempuran teknologi yang kompleks, di mana perangkat lunak canggih dan algoritma mutakhir saling beradu dalam menghadapi ancaman digital yang terus berevolusi. Namun, di balik semua
Di tengah deru kemajuan teknologi yang kian pesat, kehidupan kita tak bisa dilepaskan dari dunia digital. Berbagai kemudahan yang ditawarkan, mulai dari berkomunikasi lintas benua, berbelanja dari ujung jari, hingga
Dalam lanskap digital saat ini, media sosial telah menjadi sumber informasi utama bagi banyak orang. Namun, kemudahan akses informasi ini juga membuka pintu bagi penyebaran hoaks atau berita palsu yang
Di era digital yang serba terkoneksi ini, ancaman siber semakin kompleks dan beragam. Jika dahulu kita kerap dihadapkan pada serangan teknis seperti malware atau phishing yang mudah dikenali, kini ada
Bayangkan bangun pagi dan menyadari bahwa seluruh hidup digitalmu—dari email, media sosial, hingga akses perbankan—telah terekspos ke dunia luar. Bukan karena keteledoran pribadi, tapi karena guncangan besar yang melanda sistem
Di era digital yang semakin terkoneksi, ancaman keamanan siber berkembang dengan kecepatan yang luar biasa. Peretas, malware, dan berbagai bentuk serangan dunia maya terus mengancam data pribadi serta sistem perusahaan.
Phishing adalah seni manipulasi. Serangan ini tidak hanya bergantung pada kelemahan teknis dalam sistem keamanan, tetapi juga mengeksploitasi aspek psikologis manusia—emosi, kebiasaan, dan bias kognitif yang membuat kita rentan. Memahami
Di era digital yang penuh dengan arus informasi cepat dan masif, kemampuan membedakan antara fakta dan disinformasi menjadi semakin penting. Seiring dengan berkembangnya teknologi, cara penyebaran informasi semakin canggih, dan
Bayangkan suatu pagi, sebuah perusahaan besar tiba-tiba kehilangan akses ke semua datanya. Email pegawai, dokumen bisnis, database pelanggan—semuanya terkunci, dan layar komputer mereka hanya menampilkan pesan menakutkan: “Data Anda telah






