
Pernahkah kamu merasa ada yang salah setelah membagikan sesuatu di media sosial? Mungkin kamu mengunggah foto saat sedang sakit, curhat tentang masalah pribadi dengan pasangan, atau bahkan memposting detail lokasi rumah. Setelah itu, kamu tiba-tiba merasa cemas, menyesal, atau bahkan risih. Jika ya, mungkin kamu terjebak dalam fenomena yang disebut over-sharing.
Over-sharing adalah kebiasaan membagikan informasi pribadi atau sensitif secara berlebihan di ruang publik, terutama media sosial. Di era digital saat ini, di mana setiap momen terasa penting untuk dibagikan, batas antara privasi dan publik menjadi semakin kabur. Mari kita kenali lebih dalam ciri-ciri postingan yang terlalu terbuka dan mengapa hal ini bisa menjadi jebakan yang berbahaya.

Sulit membedakan antara “berbagi” yang sehat dan “over-sharing” yang berlebihan. Namun, ada beberapa tanda jelas yang bisa kamu kenali:

Jebakan over-sharing tidak hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitar kita. Inilah beberapa bahaya yang mengintai:

Mencegah over-sharing dimulai dengan kesadaran dan kehati-hatian. Sebelum kamu menekan tombol post, cobalah luangkan waktu sejenak dan jawab beberapa pertanyaan berikut:
Singkatnya, terapkan aturan 3 P: Pikirkan, Periksa, dan Pertimbangkan. Pikirkan apa yang ingin kamu bagikan, periksa kembali informasi apa saja yang terkandung di dalamnya, dan pertimbangkan dampaknya di masa depan.

Pada akhirnya, media sosial adalah ruang publik. Setiap kata, foto, atau video yang kita bagikan adalah jejak yang akan terus ada. Over-sharing bukanlah tanda kedekatan atau kejujuran, melainkan sebuah jebakan yang dapat merusak privasi, reputasi, dan hubungan kita.
Maka, sudah saatnya kita lebih bijak dan sadar dalam berinteraksi di dunia maya. Tanyakan pada diri sendiri: Apakah postingan ini membangun atau merusak? Apakah informasi ini benar-benar perlu diketahui oleh semua orang? Apakah saya nyaman jika postingan ini dilihat oleh orang yang tidak saya kenal?
Dengan menumbuhkan kesadaran ini, kita tidak hanya melindungi diri sendiri dari potensi bahaya, tetapi juga menciptakan ekosistem digital yang lebih sehat dan saling menghormati. Jadikan media sosial sebagai alat untuk terhubung dan menginspirasi, bukan sebagai tempat untuk menumpahkan segala hal tanpa batas. Jaga privasimu, hargai dirimu, dan kendalikan narasi digitalmu sebelum orang lain melakukannya.






