Mengapa Menyikat Gigi Dua Kali Sehari Tidak Selalu Lebih Baik

Kesehatan2 months ago

⏱️ Bacaan: 7 menit, Editor: EZ.  

Setiap pagi dan malam, jutaan orang di seluruh dunia berdiri di depan cermin, menyikat gigi seperti ritual otomatis. Dua menit di pagi hari, dua menit di malam hari — selesai. Tapi apakah benar itu cukup? Atau lebih tepatnya: apakah itu dilakukan dengan benar?

Menyikat gigi adalah salah satu kebiasaan paling mendasar dalam perawatan diri. Namun, justru karena terlalu sering dilakukan tanpa berpikir, banyak dari kita yang melakukannya dengan cara yang keliru. Bahkan mereka yang rajin menyikat dua kali sehari pun bisa saja tanpa sadar merusak enamel atau melewatkan area penting di mulut.

Artikel ini mengajak kita untuk meninjau ulang kebiasaan menyikat gigi, membongkar asumsi populer, dan menyusun ulang panduan praktis berdasarkan saran dari para ahli gigi dan lembaga kesehatan dunia. Karena menjaga kesehatan mulut bukan hanya soal frekuensi, tapi soal perhatian dan teknik yang tepat.


Bagian 1: Empat Kesalahan Umum dalam Menyikat Gigi

Menyikat gigi adalah kebiasaan yang begitu melekat dalam kehidupan sehari-hari, hingga sering kali dilakukan tanpa banyak berpikir. Kita diajari sejak kecil bahwa menyikat gigi dua kali sehari adalah kunci utama menjaga kesehatan mulut. Namun, seiring bertambahnya usia, kebiasaan ini sering berubah menjadi rutinitas yang dilakukan sambil lalu — terburu-buru, tanpa teknik yang tepat, dan kadang disertai asumsi yang keliru.

Padahal, menurut para ahli kesehatan gigi, banyak dari kita yang tanpa sadar melakukan kesalahan mendasar dalam menyikat gigi. Kesalahan-kesalahan ini bukan hanya mengurangi efektivitas pembersihan, tapi juga bisa mempercepat kerusakan gigi dan gusi.

Berikut empat kesalahan umum yang sering terjadi, lengkap dengan penjelasan ilmiah dan cara memperbaikinya:

1. Kualitas Lebih Penting daripada Frekuensi

Kita sering mendengar anjuran “sikat gigi dua kali sehari.” Itu memang benar. Tapi menurut Dr. Praveen Sharma dari University of Birmingham, kualitas menyikat jauh lebih penting daripada sekadar kuantitas. Menyikat dua kali sehari dengan asal-asalan tidak akan banyak membantu jika tekniknya salah.

Idealnya, kita menyikat gigi dua kali sehari dengan benar. Namun jika waktu terbatas, menyikat sekali sehari dengan teknik yang benar lebih baik daripada dua kali asal cepat. Prioritaskan waktu menyikat yang benar di malam hari sebelum tidur, karena saat tidur, produksi air liur menurun dan bakteri lebih mudah berkembang.

Teknik menyikat yang benar melibatkan gerakan melingkar kecil, bukan menggosok maju-mundur seperti mengamplas. Sikat semua permukaan gigi: luar, dalam, dan permukaan kunyah. Fokuskan perhatian pada area pertemuan antara gigi dan gusi — tempat favorit bakteri dan plak menumpuk.

Untuk membersihkan sela-sela gigi, gunakan benang gigi atau sikat interdental. Sikat interdental adalah alat kecil berbulu halus yang dirancang khusus untuk menjangkau celah antar gigi. Alat ini lebih mudah digunakan daripada flossing dan sangat efektif untuk mencegah radang gusi, terutama bagi pengguna kawat gigi atau implan.

2. Sikat Sebelum Sarapan, Bukan Sesudah

Banyak orang menyikat gigi setelah sarapan dengan alasan ingin “membersihkan sisa makanan.” Tapi ini justru bisa merusak enamel gigi, terutama jika sarapan mengandung makanan atau minuman asam seperti jus jeruk atau kopi.

Asam dari makanan melemahkan enamel. Jika kita langsung menyikat setelah makan, bulu sikat bisa mengikis lapisan pelindung gigi yang sedang rapuh. Solusinya? Sikat gigi sebelum sarapan. Ini membantu melindungi gigi dari asam makanan dengan lapisan fluoride dari pasta gigi.

Jika tetap ingin menyikat setelah makan, tunggu minimal 30 menit. Atau, bilas mulut dengan air untuk menetralkan asam sebelum menyikat.

3. Jangan Bilas dengan Air Setelah Menyikat

Kebiasaan membilas mulut dengan air setelah menyikat gigi ternyata bisa mengurangi efektivitas perlindungan fluoride. Air akan melarutkan dan membuang sisa fluoride yang seharusnya tetap menempel di permukaan gigi untuk melindungi dari asam dan bakteri.

Saran dari para ahli: cukup ludahkan sisa pasta gigi, lalu biarkan lapisan tipis fluoride bekerja. Jika ingin membilas, gunakan mouthwash yang mengandung fluoride, bukan air biasa.

4. Pasta Gigi Mahal Bukan Jaminan

Pasar pasta gigi penuh dengan klaim: memutihkan, memperkuat enamel, mengandung arang aktif, dan sebagainya. Tapi menurut Dr. Sharma, yang paling penting adalah satu hal: kandungan fluoride.

Fluoride adalah bahan aktif yang terbukti secara ilmiah mencegah kerusakan gigi dan memperkuat enamel. Selama pasta gigi mengandung fluoride, merek dan harga bukanlah faktor utama. Bahkan, banyak dokter gigi memilih pasta gigi yang sedang diskon di supermarket.

Namun, jika kamu memiliki kondisi khusus seperti gusi sensitif atau gigi berlubang parah, dokter gigi mungkin akan merekomendasikan pasta gigi tertentu.


Bagian 2: Panduan Praktis Menyikat Gigi yang Efektif dan Terstandar Internasional

Berikut panduan menyikat gigi yang disarikan dari rekomendasi WHO, American Dental Association (ADA), dan FDI World Dental Federation:

  • Frekuensi dan Durasi:
    • Sikat gigi dua kali sehari, masing-masing selama 2 menit.
    • Prioritaskan waktu menyikat yang benar di malam hari sebelum tidur.
  • Teknik Menyikat:
    • Posisikan sikat gigi miring sekitar 45° ke arah gusi, bukan tegak lurus. Sudut 45° berfungsi untuk menghindari tekanan berlebihan dan membersihkan area pertemuan gigi-gusi secara efektif tanpa merusak jaringan lunak. Sudut ini memungkinkan bulu sikat menyapu plak di pertemuan gigi dan gusi secara lembut dan efektif.
    • Gunakan gerakan pendek dan melingkar, bukan menggosok maju-mundur seperti mengamplas.
    • Hindari tekanan berlebihan — menyikat terlalu keras tidak membuat gigi lebih bersih, justru bisa mengikis enamel dan menyebabkan gusi turun.
    • Sikat semua permukaan gigi: luar, dalam, dan permukaan kunyah.
    • Fokus pada area pertemuan gigi dan gusi, tempat plak sering menumpuk.
  • Pasta Gigi dan Fluoride:
    • Gunakan pasta gigi berfluoride.
    • Jangan bilas dengan air setelah menyikat.
    • Jika ingin membilas, gunakan mouthwash berfluoride.
  • Pembersihan Sela Gigi:
    • Gunakan benang gigi atau sikat interdental minimal sekali sehari.
    • Sikat interdental sangat efektif dan lebih mudah digunakan, terutama bagi pengguna kawat gigi atau implan.
  • Jenis Sikat Gigi:
    • Pilih sikat gigi berbulu lembut untuk menghindari kerusakan pada gusi dan enamel.
    • Ukuran kepala sikat harus sesuai dengan ukuran mulut agar bisa menjangkau semua area.
    • Ganti sikat gigi setiap 3 hingga 4 bulan, atau lebih cepat jika bulu sudah rusak.
    • Jika bulu sikat cepat melengkung atau rusak, itu bisa menjadi tanda bahwa kamu menyikat terlalu keras. Tekanan berlebihan saat menyikat tidak membuat gigi lebih bersih — justru bisa mengikis enamel dan menyebabkan gusi turun.
  • Waktu Menyikat:
    • Sikat gigi sebelum sarapan, bukan sesudah.
    • Jika menyikat setelah makan, tunggu minimal 30 menit.
  • Jangan Lupa Lidah dan Langit-Langit Mulut:
    • Setelah menyikat gigi, bersihkan juga permukaan lidah secara lembut untuk mengurangi bakteri penyebab bau mulut.
    • Sikat ringan langit-langit mulut untuk membantu menjaga keseimbangan mikroba dan memberi rasa bersih menyeluruh.
    • Dua langkah kecil ini sangat membantu menjaga kesegaran napas dan kebersihan rongga mulut secara menyeluruh.

Penutup: Menyikat Gigi sebagai Tindakan Sadar

Menyikat gigi bukan sekadar rutinitas. Ia adalah bentuk perawatan diri yang paling dasar — dan paling sering diabaikan. Dengan teknik yang benar, waktu yang tepat, dan pemahaman yang lebih dalam, kita bisa mengubah kebiasaan ini menjadi tindakan sadar yang benar-benar melindungi kesehatan mulut.

Menariknya, banyak kesalahan yang kita lakukan berasal dari mitos yang sudah lama beredar:

  • Kita percaya bahwa menyikat dua kali sehari sudah cukup, padahal teknik jauh lebih penting.
  • Kita terbiasa menyikat gigi setelah makan, padahal itu bisa merusak enamel.
  • Kita membilas mulut dengan air setelah menyikat, padahal itu menghilangkan fluoride.
  • Kita memilih pasta gigi mahal, padahal yang penting adalah kandungan fluoride.

Mitos-mitos ini bukan sekadar kesalahpahaman, tapi cerminan dari kebiasaan yang jarang dipertanyakan. Dengan membongkarnya, kita membuka ruang untuk kebiasaan baru yang lebih sehat dan sadar.

Tidak perlu alat mahal atau waktu ekstra. Yang dibutuhkan hanyalah perhatian, konsistensi, dan sedikit pengetahuan yang benar. Karena dalam hal kesehatan, yang kecil dan rutin justru sering menjadi yang paling berdampak.

Menyikat gigi bukan hanya soal kebersihan, tapi tentang perhatian. Saat kita menyikat dengan benar, kita sedang merawat tubuh, bukan sekadar mengikuti kebiasaan.

2 Votes: 2 Upvotes, 0 Downvotes (2 Points)

Iklan

Leave a reply


IKLAN
ROPINDO - Solusi Hemat Energi untuk Gedung

Solusi Hemat Energi untuk Gedung.
Sedang mencari sistem yang mudah, hemat biaya, hemat energi, ramah lingkungan, dan revolusioner?
Anda baru saja menemukannya: ROPINDO.
ROPINDO menghadirkan Building Energy Management Systems (BEMS) inovatif yang cocok untuk semua jenis bangunan - yang telah terbukti menurunkan biaya listrik secara signifikan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.

Kunjungi Website
Hubungi via WhatsApp


DUKUNG DUS

Dukung misi kami menghadirkan konten edukatif, reflektif, dan penuh semangat positif.
Anda bisa berdonasi langsung melalui tombol kontribusi Google di bawah ini.

DUKUNG DUS

Dukung misi kami menghadirkan konten edukatif, reflektif, dan penuh semangat positif.
Anda bisa berdonasi langsung melalui tombol kontribusi Google di bawah ini.

Tetap terinformasi dengan berita positif dan inspiratif.

Bersedia untuk menerima informasi dan berita dari DUS.ID melalui email. Untuk informasi lebih lanjut, silakan tinjau Kebijakan Privasi

DUS Channel
Search
RANDOM
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...