Merayakan Tahun Baru Cina: Dari Legenda Nian hingga Festival Lampion

⏱️ Bacaan: 15 menit, Editor: EZ.  

Bayangkan sebuah malam yang penuh kehidupan: langit malam diterangi cahaya merah dari ribuan lampion, suara petasan bergemuruh memecah keheningan, dan aroma masakan keluarga yang hangat memenuhi udara. Di setiap sudut kota, orang-orang berkumpul, tertawa, dan berbagi harapan. Inilah suasana yang membuat Tahun Baru Cina (Chūnjié 春节), atau yang di Indonesia dikenal juga sebagai Tahun Baru Imlek, begitu istimewa.

Perayaan ini bukan sekadar pergantian kalender lunar. Ia adalah ritual kebersamaan yang telah diwariskan selama ribuan tahun, lahir dari akar agraris masyarakat Tiongkok kuno, diperkaya oleh legenda rakyat, dan berkembang menjadi festival penuh makna. Dari kisah monster Nian yang melegenda hingga Festival Lampion yang menutup rangkaian perayaan, Imlek adalah warisan budaya yang hidup, terus beradaptasi dengan zaman namun tetap menjaga inti filosofinya: menyambut kehidupan baru dengan semangat optimisme.

Di balik gemerlap lampion dan meriahnya pesta, Imlek menyimpan lapisan sejarah, tradisi, dan filosofi hidup yang mendalam. Ia mengajarkan tentang keberanian menghadapi ketakutan, pentingnya menjaga ikatan keluarga, dan keyakinan bahwa setiap tahun membawa kesempatan baru untuk tumbuh dan berkembang. Itulah sebabnya Imlek selalu dinanti, bukan hanya oleh masyarakat Tionghoa, tetapi juga oleh siapa pun yang ingin merasakan kehangatan tradisi yang melampaui batas waktu dan tempat.


Bagian 1: Sejarah dan Asal-usul

Tahun Baru Cina (Imlek) adalah perayaan yang telah hidup selama ribuan tahun, berakar dari kehidupan masyarakat agraris Tiongkok kuno. Bagi mereka, pergantian tahun bukan sekadar hitungan kalender, melainkan tanda dimulainya siklus tanam baru. Musim semi dianggap sebagai awal kehidupan, sehingga perayaan ini disebut Chūnjié (春节) atau Festival Musim Semi — simbol kelahiran kembali dan harapan baru.

Namun, Imlek tidak hanya lahir dari siklus alam. Ia juga dipenuhi dengan kisah-kisah legendaris yang membentuk identitas budaya. Salah satu yang paling terkenal adalah cerita tentang Nian (年兽), makhluk buas yang muncul setiap pergantian tahun untuk menebar teror. Penduduk desa menemukan cara untuk mengusirnya: warna merah yang menyala, api yang berkobar, dan suara keras dari petasan. Dari legenda ini lahirlah tradisi menghias rumah dengan ornamen merah, menyalakan petasan, dan menyalakan api sebagai simbol perlindungan. Kisah Nian bukan sekadar dongeng, melainkan narasi kolektif tentang keberanian manusia menghadapi ketakutan.

Sejarah mencatat bahwa ritual Tahun Baru sudah dilakukan sejak Dinasti Zhou (sekitar 1046–256 SM). Pada masa Dinasti Han, perayaan ini berkembang menjadi festival besar dengan doa, persembahan, dan pesta keluarga. Dinasti Tang dan Song kemudian memperkaya tradisi dengan seni pertunjukan, musik, dan dekorasi khas. Dari generasi ke generasi, Imlek tumbuh menjadi perayaan nasional yang sarat simbolisme, menggabungkan unsur spiritual, sosial, dan budaya.

Imlek adalah cermin perjalanan panjang sebuah peradaban. Ia menekankan harmoni antara manusia dan alam, sekaligus menegaskan nilai-nilai kebersamaan yang tetap relevan hingga kini. Dari akar agraris hingga legenda rakyat, dari ritual dinasti kuno hingga festival modern, Imlek terus hidup sebagai warisan budaya yang menyatukan masa lalu dengan masa depan.


Bagian 2: Tradisi yang Membuat Imlek Hidup

Imlek adalah perayaan yang kaya akan simbol dan sejarah. Setiap tradisi yang dijalankan bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, melainkan warisan budaya yang sarat makna. Dari pembersihan rumah hingga Festival Lampion, semuanya memiliki akar historis yang panjang dan filosofi mendalam.

1. Membersihkan rumah (大扫除 dà sǎochú).
Sejak masa Dinasti Han (206 SM hingga 220 M), masyarakat percaya bahwa nasib buruk menempel di rumah sepanjang tahun. Menjelang Imlek, keluarga melakukan pembersihan besar-besaran untuk “menyapu keluar” kesialan dan membuka ruang bagi keberuntungan baru. Ada pantangan yang masih dijaga hingga kini: pada hari pertama Imlek, menyapu rumah dilarang karena diyakini bisa “menyapu keluar” keberuntungan yang baru datang.

2. Makan malam reuni keluarga (年夜饭 nián yè fàn).
Sejak Dinasti Zhou (1046 SM hingga 256 SM), makan malam bersama keluarga menjadi inti perayaan Imlek. Hidangan yang disajikan penuh simbolisme:

  • Ikan (鱼 yú) → melambangkan kemakmuran, karena bunyi berarti “berlimpah.”
  • Pangsit (饺子 jiǎozi) → bentuknya menyerupai emas batangan, simbol kekayaan.
  • Nian gao (年糕) → kue beras ketan yang berarti “tahun yang lebih tinggi,” simbol kemajuan.

Makan malam ini bukan sekadar jamuan, melainkan ritual kebersamaan yang menegaskan bahwa keluarga adalah pusat dari segala perayaan. Tradisi ini bertahan ribuan tahun karena dianggap sebagai cara untuk menghormati leluhur sekaligus memperkuat ikatan keluarga.

3. Angpao (红包 hóngbāo).
Tradisi ini diyakini bermula pada masa Dinasti Qin (221 SM hingga 206 SM) dan berkembang di era Han (206 SM hingga 220 M). Orang tua memberikan koin kepada anak-anak sebagai perlindungan dari roh jahat. Warna merah dipilih karena dipercaya membawa keberuntungan dan menolak bala. Hingga kini, angpao tetap menjadi simbol doa, perlindungan, dan berbagi berkat antar generasi.

4. Petasan dan kembang api (鞭炮 biānpào).
Berakar dari legenda Nian, suara keras dan cahaya terang dipercaya mampu mengusir makhluk jahat. Sejak Dinasti Tang (618 M hingga 907 M), petasan menjadi bagian resmi dari perayaan Imlek. Kilatan kembang api di langit malam bukan hanya hiburan, melainkan simbol kemenangan atas ketakutan dan doa akan masa depan yang cerah.

5. Tarian singa dan naga (舞狮 wǔshī, 舞龙 wǔlóng).
Pertunjukan ini mulai populer pada masa Dinasti Han (206 SM hingga 220 M) dan semakin berkembang di era Tang (618 M hingga 907 M). Singa melambangkan keberanian dan perlindungan, sementara naga adalah simbol kekuatan, keberuntungan, dan harmoni. Lebih dari sekadar hiburan, tarian ini adalah ritual kolektif untuk mengusir roh jahat dan memanggil keberuntungan bagi seluruh masyarakat.

6. Festival Lampion (元宵节 Yuánxiāo jié).
Festival ini bermula sejak Dinasti Han (206 SM hingga 220 M), ketika lampion dinyalakan untuk menghormati Buddha. Pada masa Dinasti Tang (618 M hingga 907 M) dan Ming (1368 M hingga 1644 M), tradisi berkembang menjadi pesta rakyat dengan lampion berwarna merah sebagai simbol penerangan, harapan, dan kebersamaan. Lampion bulat melambangkan keutuhan keluarga, sementara teka-teki yang ditulis di atasnya menambah nuansa interaktif. Di malam itu, keluarga menyantap tangyuan (bola ketan manis) yang bulat, simbol persatuan dan keharmonisan. Festival Lampion menjadi puncak perayaan Imlek, menutup rangkaian dengan cahaya yang melambangkan masa depan yang penuh harapan.

7. Chunlian (春联) – Hiasan syair di pintu rumah.
Sejak masa Dinasti Song (960 M hingga 1279 M), masyarakat menempelkan syair berwarna merah di pintu rumah. Syair ini berisi doa keberuntungan, kebahagiaan, dan harapan masa depan. Chunlian adalah bentuk seni sastra sekaligus simbol spiritual, memperlihatkan bagaimana tradisi Imlek juga menjadi wadah ekspresi budaya.

8. Bàinián (拜年) – Kunjungan keluarga dan kerabat.
Tradisi saling berkunjung sudah ada sejak Dinasti Ming (1368 M hingga 1644 M). Orang-orang datang ke rumah kerabat untuk mengucapkan selamat tahun baru, membawa hadiah kecil, dan mempererat hubungan sosial. Bàinián menegaskan bahwa Imlek bukan hanya tentang keluarga inti, tetapi juga tentang komunitas dan jaringan sosial.

9. Penghormatan leluhur (祭祖 jìzǔ).
Sejak masa Dinasti Zhou (1046 SM hingga 256 SM), penghormatan kepada leluhur menjadi bagian penting dari Imlek. Keluarga menyalakan dupa, menyiapkan persembahan makanan, dan berdoa di altar keluarga. Tradisi ini menegaskan nilai filial piety (bakti kepada orang tua) yang menjadi fondasi budaya Tionghoa.

Seluruh tradisi Imlek — mulai dari pembersihan rumah, makan malam reuni, pembagian angpao, petasan, tarian singa dan naga, Festival Lampion, hingga tradisi tambahan seperti chunlian, bàinián, dan penghormatan leluhur — adalah rangkaian utuh yang membentuk denyut nadi perayaan ini. Setiap tradisi lahir dari akar sejarah yang berbeda: ada yang berasal dari ritual agraris, ada yang tumbuh dari legenda rakyat, ada pula yang berkembang di masa dinasti-dinasti besar.

Kesemuanya menyampaikan pesan yang sama: menyambut keberuntungan, menjaga kebersamaan, menghormati leluhur, dan menyalakan harapan baru. Itulah yang membuat Imlek bukan sekadar pesta meriah, melainkan sebuah warisan budaya yang hidup, relevan lintas zaman, dan terus menyatukan manusia dengan sejarah serta komunitasnya.


Bagian 3: Timeline Perayaan (Hari ke-1 hingga Hari ke-15)

Imlek bukan hanya satu malam pesta, melainkan rangkaian perayaan selama 15 hari yang penuh dengan makna, pantangan, dan simbol budaya. Setiap hari memiliki tradisi khusus yang diwariskan turun-temurun, membentuk alur perayaan yang utuh dari awal tahun hingga Festival Lampion.

Hari ke-1 (初一 Chū yī).
Hari pertama adalah awal tahun baru lunar. Sejak masa Dinasti Han (206 SM hingga 220 M), masyarakat mengenakan pakaian baru berwarna cerah, terutama merah, sebagai simbol keberuntungan. Keluarga berkumpul untuk berdoa kepada dewa dan leluhur, memohon perlindungan serta rezeki. Pantangan yang dijaga: tidak boleh menggunakan kata-kata kasar, menangis, atau menyapu rumah, karena diyakini membawa nasib buruk sepanjang tahun.

Hari ke-2 (初二 Chū èr).
Hari kedua dikenal sebagai waktu untuk mengunjungi keluarga pihak istri. Tradisi ini menegaskan pentingnya menjaga hubungan antar keluarga besar. Selain itu, masyarakat juga melakukan doa untuk roh bumi dan dewa dapur, memohon keberkahan rumah tangga. Catatan sejarah menunjukkan bahwa sejak Dinasti Han, hari kedua dianggap sebagai momen memperkuat ikatan sosial.

Hari ke-3 (初三 Chū sān).
Hari ketiga disebut “Hari Tikus Merah,” diyakini sebagai waktu ketika roh jahat berkeliaran. Karena itu, masyarakat menghindari kunjungan keluarga atau pertemuan sosial. Sejak masa Dinasti Tang (618 M hingga 907 M), hari ini dianggap penuh pantangan, sehingga banyak orang memilih beristirahat di rumah untuk menghindari konflik.

Hari ke-4 (初四 Chū sì).
Hari ini adalah waktu untuk menyambut Dewa Kekayaan (财神 Cáishén). Persembahan makanan dan dupa dilakukan untuk memohon keberuntungan finansial. Tradisi ini berkembang pesat pada masa Dinasti Ming (1368 M hingga 1644 M), ketika kepercayaan terhadap Dewa Kekayaan semakin populer di kalangan pedagang.

Hari ke-5 (初五 Chū wǔ).
Disebut juga “Po Wu,” hari ini dipercaya sebagai waktu untuk membuang nasib buruk. Sejak masa Dinasti Han, masyarakat menyalakan petasan untuk mengusir kesialan. Banyak toko dan bisnis mulai buka kembali setelah libur panjang, dengan harapan tahun baru membawa keuntungan.

Hari ke-6 hingga ke-10 (初六–初十).
Hari-hari ini digunakan untuk kunjungan kerabat dan sahabat. Setiap kunjungan disertai ucapan selamat tahun baru (bàinián), membawa hadiah kecil, dan mempererat hubungan sosial. Pantangan tertentu tetap dijaga, seperti tidak boleh meminjam uang atau meminjam barang, karena diyakini bisa membawa kesulitan finansial sepanjang tahun. Tradisi ini sudah tercatat sejak Dinasti Ming, ketika jaringan sosial dianggap penting untuk stabilitas komunitas.

Hari ke-11 hingga ke-14 (初十一–初十四).
Hari-hari ini adalah masa persiapan Festival Lampion. Keluarga mulai membuat dan menghias lampion, menyiapkan makanan khas, dan menulis syair chunlian baru. Suasana semakin meriah menjelang puncak perayaan. Catatan sejarah dari Dinasti Song (960 M hingga 1279 M) menunjukkan bahwa persiapan lampion sudah menjadi bagian penting dari perayaan menjelang hari ke-15.

Hari ke-15 (元宵 Yuánxiāo).
Hari terakhir Imlek adalah Festival Lampion (元宵节 Yuánxiāo jié). Jalanan dipenuhi lampion merah yang menyala, melambangkan harapan dan kebersamaan. Lampion bulat menjadi simbol keutuhan keluarga. Tradisi teka-teki lampion menambah nuansa interaktif, sementara hidangan tangyuan (bola ketan manis) disantap sebagai simbol persatuan dan keharmonisan. Festival ini bermula sejak Dinasti Han (206 SM hingga 220 M) dan berkembang menjadi pesta rakyat besar pada masa Dinasti Tang (618 M hingga 907 M) dan Ming (1368 M hingga 1644 M).

Rangkaian 15 hari Imlek memperlihatkan bagaimana tradisi, pantangan, dan doa saling terjalin dalam satu alur budaya yang utuh. Dari doa kepada leluhur di hari pertama hingga cahaya lampion di hari ke-15, Imlek adalah perjalanan simbolik: menghapus kesialan, menyambut keberuntungan, menjaga kebersamaan, dan menyalakan harapan baru.


Bagian 4: Makanan Simbolis dalam Perayaan Imlek

Selain tradisi yang dijalankan dari hari ke-1 hingga hari ke-15, makanan simbolis adalah bagian yang tak terpisahkan dari Imlek. Setiap hidangan bukan sekadar santapan, melainkan bahasa budaya yang menyampaikan doa, harapan, dan filosofi hidup. Sejarah mencatat bahwa sejak masa Dinasti Zhou (1046 SM hingga 256 SM), makanan sudah menjadi medium penting dalam ritual penghormatan leluhur dan doa keberuntungan.

Nian Gao (年糕) – Kue Beras Ketan.
Kue ini sudah dikenal sejak Dinasti Han (206 SM hingga 220 M). Kata nian gao berarti “tahun yang lebih tinggi,” melambangkan kemajuan dan peningkatan rezeki. Teksturnya lengket, menandakan ikatan keluarga yang erat.

Tangyuan (汤圆) – Bola Ketan Manis.
Disajikan khusus pada Festival Lampion (hari ke-15). Bentuknya bulat melambangkan keutuhan keluarga. Tradisi makan tangyuan sudah ada sejak Dinasti Song (960 M hingga 1279 M), menegaskan makna persatuan dan keharmonisan.

Pangsit (饺子 jiǎozi).
Mulai populer pada masa Dinasti Han (206 SM hingga 220 M). Bentuknya menyerupai emas batangan, sehingga dipercaya membawa kekayaan. Pangsit biasanya disantap saat makan malam reuni keluarga di malam Imlek.

Ikan (鱼 yú).
Sejak masa Dinasti Zhou (1046 SM hingga 256 SM), ikan menjadi hidangan wajib. Kata terdengar sama dengan kata “berlimpah,” sehingga ikan melambangkan kemakmuran dan keberuntungan. Biasanya ikan disajikan utuh, menandakan kesempurnaan dan keberlanjutan.

Mi Panjang Umur (长寿面 chángshòu miàn).
Tradisi makan mi panjang umur muncul pada masa Dinasti Han (206 SM hingga 220 M). Mi yang panjang melambangkan doa untuk umur panjang dan kesehatan. Pantangan: mi tidak boleh dipotong, karena dianggap memutus keberuntungan.

Kue Kacang dan Manisan (糖果盒 tángguǒ hé).
Sejak masa Dinasti Qing (1644 M hingga 1912 M), keluarga menyiapkan kotak manisan berisi kacang, biji bunga matahari, dan buah kering. Setiap jenis manisan memiliki makna: manis untuk kehidupan yang bahagia, biji untuk kesuburan, dan buah kering untuk keberlanjutan.

Jeruk dan Mandarin (橘子 júzi, 柑 gān).
Buah jeruk dan mandarin menjadi simbol keberuntungan karena bunyi kata mirip dengan kata “keberuntungan.” Tradisi ini sudah ada sejak Dinasti Ming (1368 M hingga 1644 M). Buah ini biasanya diberikan saat kunjungan keluarga sebagai doa keberuntungan.

Spring Rolls (春卷 chūnjuǎn).
Berakar dari kuliner Tiongkok Selatan sejak masa Dinasti Ming (1368 M hingga 1644 M). Bentuknya menyerupai batang emas, sehingga melambangkan kekayaan dan kemakmuran. Digoreng hingga berwarna keemasan, menegaskan simbol rezeki yang berlimpah.

Yuánxiāo (元宵) – Bola Ketan Isi Manis.
Mirip dengan tangyuan, tetapi biasanya diisi dengan pasta wijen atau kacang tanah. Nama yuánxiāo sendiri merujuk pada Festival Lampion, sehingga makanan ini menjadi simbol penutup perayaan dengan manis dan utuh.

Sayuran Hijau (青菜 qīngcài).
Sejak masa Dinasti Zhou (1046 SM hingga 256 SM), sayuran hijau segar disajikan sebagai simbol kesuburan dan kehidupan baru. Tradisi ini berakar dari masyarakat agraris yang mengaitkan sayuran dengan musim semi dan siklus tanam baru.

Ayam Utuh (鸡 jī).
Ayam utuh sering disajikan sebagai simbol kesatuan keluarga dan kelengkapan hidup. Kata juga terdengar mirip dengan kata yang berarti “beruntung” dalam beberapa dialek Tiongkok.

Biji Teratai (莲子 liánzǐ).
Disajikan dalam manisan atau sup, melambangkan kesuburan dan kelahiran anak. Tradisi ini populer sejak Dinasti Qing (1644 M hingga 1912 M), terutama di kalangan keluarga yang berharap keturunan.

Nasi (米 mǐ).
Nasi adalah makanan pokok yang selalu hadir. Dalam konteks Imlek, nasi melambangkan kehidupan dan keberlanjutan. Sejak masa Dinasti Shang (1600 SM hingga 1046 SM), nasi sudah menjadi persembahan utama dalam ritual kepada leluhur.

Makanan dalam Imlek bukan sekadar hidangan, melainkan narasi budaya Tiongkok yang menyampaikan doa untuk kemakmuran, umur panjang, kesuburan, kebersamaan, dan keberuntungan. Dari nian gao yang lengket hingga mi panjang umur yang tak boleh dipotong, dari jeruk yang membawa keberuntungan hingga spring rolls yang menyerupai emas, setiap makanan adalah simbol yang memperkuat makna Imlek sebagai perayaan harapan baru.


Bagian 5: Makna Filosofis Imlek

Di balik gemerlap lampion, dentuman petasan, dan hidangan meriah, Imlek menyimpan makna filosofis yang mendalam. Perayaan ini bukan sekadar tradisi turun-temurun, melainkan refleksi tentang waktu, kebersamaan, dan harapan yang tetap relevan hingga kini.

1. Filosofi Waktu dan Pembaruan.

Imlek lahir dari kalender lunar yang erat dengan siklus agraris. Filosofinya menekankan bahwa setiap pergantian tahun adalah kesempatan untuk memperbarui diri.

  • Membersihkan rumah, simbol menghapus beban lama dan membuka ruang bagi energi baru.
  • Petasan dan kembang api, simbol keberanian menghadapi ketakutan, sekaligus doa untuk masa depan yang cerah.
  • Legenda Nian, mengajarkan bahwa ancaman dapat diatasi dengan kreativitas dan solidaritas.

Imlek mengingatkan manusia bahwa hidup adalah siklus: selalu ada ruang untuk meninggalkan masa lalu dan menyambut awal baru.

2. Kebersamaan sebagai Fondasi Hidup.

Imlek menegaskan bahwa kebahagiaan lahir dari kebersamaan.

  • Makan malam reuni keluarga meneguhkan identitas kolektif, bahwa keluarga adalah pusat kehidupan.
  • Tradisi bàinián (kunjungan keluarga) memperluas lingkaran kebersamaan, menekankan pentingnya komunitas.

Filosofinya jelas: manusia tidak bisa hidup sendiri. Kebersamaan adalah sumber kekuatan, dan Imlek menjadi pengingat bahwa hubungan sosial adalah harta yang harus dijaga.

3. Transformasi dan Harapan melalui Zodiak Tiongkok (Shio).

Imlek juga terkait dengan zodiak Tiongkok (生肖 shēngxiào), yang terdiri dari 12 hewan, masing-masing membawa filosofi unik:

  • Tikus (鼠 shǔ) → kecerdikan dan kemampuan beradaptasi.
  • Kerbau/Sapi (牛 niú) → ketekunan, kerja keras, dan ketabahan.
  • Macan (虎 hǔ) → keberanian dan kepemimpinan.
  • Kelinci (兔 tù) → kelembutan, keharmonisan, dan keberuntungan.
  • Naga (龙 lóng) → kekuatan, keberuntungan, dan kebangkitan.
  • Ular (蛇 shé) → kebijaksanaan dan transformasi.
  • Kuda (马 mǎ) → semangat, kebebasan, dan energi.
  • Kambing/Domba (羊 yáng) → ketenangan, kreativitas, dan solidaritas.
  • Monyet (猴 hóu) → kecerdasan, kelincahan, dan inovasi.
  • Ayam/Jago (鸡 jī) → ketepatan, ketelitian, dan kejujuran.
  • Anjing (狗 gǒu) → kesetiaan, keadilan, dan perlindungan.
  • Babi (猪 zhū) → kelimpahan, kehangatan, dan ketulusan.

Filosofinya: setiap tahun membawa energi dan pelajaran baru, mengingatkan manusia untuk menyesuaikan diri dengan perubahan zaman sambil tetap berpegang pada nilai dasar.

Untuk memahami lebih dalam asal-usul 12 shio ini, termasuk legenda perlombaan besar yang menentukan urutan hewan dalam zodiak Tiongkok, kamu bisa membaca: Mengenal Shio – Legenda Perlombaan Besar yang Menjadi Awal Mula 12 Shio – yang akan memperkaya perspektif tentang bagaimana filosofi shio lahir dari mitologi dan tetap hidup dalam budaya hingga kini.

Imlek adalah lebih dari sekadar festival. Ia adalah refleksi tentang siklus kehidupan:

  • Waktu, kesempatan untuk memperbarui diri.
  • Kebersamaan, fondasi identitas dan kebahagiaan.
  • Transformasi, kesiapan menghadapi perubahan.
  • Harapan, cahaya yang menuntun masa depan.

Dengan fokus pada makna filosofis, Imlek tetap relevan lintas zaman, mengajarkan bahwa setiap awal baru adalah kesempatan untuk hidup lebih baik, bersama orang-orang yang kita cintai, dengan harapan yang tak pernah padam.


Penutup: Cahaya Harapan dari Tradisi yang Hidup

Imlek adalah lebih dari sekadar perayaan penuh warna. Ia adalah cermin perjalanan manusia: dari akar sejarah yang panjang, tradisi yang kaya, rangkaian perayaan harian yang penuh makna, hingga makanan simbolis yang sarat doa. Semua itu berpuncak pada makna filosofis yang mengajarkan tentang waktu, kebersamaan, transformasi, dan harapan.

Di setiap dentuman petasan, kita belajar tentang keberanian menghadapi ketakutan. Di setiap reuni keluarga, kita merasakan kekuatan kebersamaan. Di setiap hidangan simbolis, kita menemukan doa yang terselip dalam rasa. Dan di setiap cahaya lampion, kita melihat harapan yang menuntun masa depan.

Imlek bukan hanya milik masa lalu, tetapi juga milik masa kini dan masa depan. Ia adalah warisan budaya yang hidup, yang terus relevan di tengah dunia modern. Dari Tiongkok hingga seluruh penjuru dunia, Imlek menyatukan manusia dalam satu pesan universal: setiap awal baru adalah kesempatan untuk hidup lebih baik, bersama orang-orang yang kita cintai, dengan harapan yang tak pernah padam.

1 Votes: 1 Upvotes, 0 Downvotes (1 Points)

Iklan

Leave a reply

Previous Post

Next Post


IKLAN
ROPINDO - Solusi Hemat Energi untuk Gedung

Solusi Hemat Energi untuk Gedung.
Sedang mencari sistem yang mudah, hemat biaya, hemat energi, ramah lingkungan, dan revolusioner?
Anda baru saja menemukannya: ROPINDO.
ROPINDO menghadirkan Building Energy Management Systems (BEMS) inovatif yang cocok untuk semua jenis bangunan - yang telah terbukti menurunkan biaya listrik secara signifikan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.

Kunjungi Website
Hubungi via WhatsApp


DUKUNG DUS

Dukung misi kami menghadirkan konten edukatif, reflektif, dan penuh semangat positif.
Anda bisa berdonasi langsung melalui tombol kontribusi Google di bawah ini.

DUKUNG DUS

Dukung misi kami menghadirkan konten edukatif, reflektif, dan penuh semangat positif.
Anda bisa berdonasi langsung melalui tombol kontribusi Google di bawah ini.

Tetap terinformasi dengan berita positif dan inspiratif.

Bersedia untuk menerima informasi dan berita dari DUS.ID melalui email. Untuk informasi lebih lanjut, silakan tinjau Kebijakan Privasi

DUS Channel
Search
RANDOM
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...