Oversharing Bukan Kejujuran, Melainkan Respon ADHD

KesejahteraanPsikologi14 hours ago

Iklan

⏱️ Bacaan: 10 menit, Editor: EZ.  

Fenomena oversharing — yakni kecenderungan membagikan terlalu banyak informasi pribadi dalam percakapan — sering kali dianggap sebagai bentuk kejujuran tanpa batas. Banyak orang menilainya sebagai tanda keterbukaan, bahkan kepercayaan. Namun, pandangan ini sebenarnya menyederhanakan realitas psikologis yang lebih kompleks.

Dalam psikologi, oversharing lebih sering dipahami sebagai respon impulsif yang muncul dari kesulitan regulasi diri. Pada sebagian individu, perilaku ini berkaitan erat dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). ADHD sendiri adalah kondisi neurodevelopmental yang biasanya ditandai dengan kesulitan memusatkan perhatian, tingkat impulsivitas yang tinggi, dan kecenderungan hiperaktif. Kondisi ini memengaruhi cara seseorang mengatur fokus, mengendalikan dorongan, serta mengelola emosi — dan hal inilah yang dapat membuat oversharing lebih mudah terjadi.

Mengapa hal ini penting? Karena oversharing bukan sekadar kejujuran berlebihan. Ia adalah sinyal komunikasi yang bisa mencerminkan pergulatan internal seseorang — baik karena faktor neurologis, emosional, maupun sosial. Dengan memahami perbedaan mendasar antara kejujuran dan oversharing, kita dapat lebih empatik dalam menilai perilaku orang lain, sekaligus lebih bijak dalam mengelola cara kita sendiri berkomunikasi.

Kita akan melihat bagaimana oversharing berbeda dari kejujuran, menelusuri kaitannya dengan ADHD, memahami sisi psikologis yang lebih luas, dan mempertimbangkan dampak yang mungkin timbul—sehingga membuka perspektif baru agar oversharing tidak lagi dipandang sekadar kelemahan, melainkan sebagai pintu masuk untuk memahami manusia dengan lebih dalam.


Bagian 1: Kejujuran vs. Oversharing

Kejujuran adalah kemampuan untuk menyampaikan kebenaran secara relevan, proporsional, dan sesuai dengan konteks. Dalam komunikasi sehari-hari, kejujuran berarti kita memilih informasi yang penting dan berguna bagi lawan bicara, tanpa menutup-nutupi fakta yang memang perlu diketahui. Kejujuran yang sehat selalu melibatkan filter — yakni pertimbangan tentang apa yang pantas dibagikan, kapan, dan kepada siapa.

Sebaliknya, oversharing terjadi ketika seseorang membagikan informasi yang terlalu banyak, terlalu detail, atau tidak sesuai situasi. Misalnya, menceritakan masalah pribadi yang sangat intim dalam rapat kerja, atau mengungkap detail kehidupan sehari-hari yang tidak relevan dalam percakapan singkat. Dalam kasus seperti ini, informasi yang keluar bukan lagi sekadar kebenaran, melainkan banjir data pribadi yang bisa membuat lawan bicara kewalahan.

Perbedaan mendasar antara keduanya terletak pada niat dan konteks. Kejujuran berakar pada keterbukaan yang sehat, sedangkan oversharing sering kali muncul dari dorongan emosional atau impulsif yang tidak terkendali. Itulah mengapa oversharing tidak bisa disamakan dengan kejujuran berlebihan. Ia lebih tepat dipahami sebagai bentuk komunikasi yang kehilangan keseimbangan antara apa yang ingin diungkap dan apa yang sebaiknya ditahan.

Dengan memahami perbedaan ini, kita bisa lebih bijak dalam menilai perilaku orang lain. Daripada menganggap oversharing sebagai “jujur kelewat batas,” lebih tepat melihatnya sebagai sinyal adanya kebutuhan emosional atau kesulitan regulasi diri. Perspektif ini membuka ruang empati, sekaligus membantu kita mengelola komunikasi agar tetap sehat dan relevan.


Bagian 2: ADHD dan Mekanisme Psikologis

ADHD, atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder, adalah kondisi neurodevelopmental yang memengaruhi cara seseorang mengatur perhatian, mengendalikan impuls, dan mengelola energi. Gejalanya biasanya muncul sejak masa kanak-kanak dan dapat bertahan hingga dewasa. Orang dengan ADHD sering mengalami kesulitan untuk fokus pada satu hal dalam waktu lama, cenderung bertindak spontan tanpa banyak pertimbangan, dan memiliki energi yang seolah tidak pernah habis.

Dalam konteks komunikasi, ADHD dapat menjelaskan mengapa oversharing lebih mudah terjadi. Ada beberapa mekanisme psikologis yang berperan:

  • Impulsivitas: dorongan untuk segera berbicara sering kali lebih kuat daripada kemampuan menahan diri. Akibatnya, informasi yang seharusnya disaring justru keluar begitu saja.
  • Kesulitan regulasi emosi: berbicara berlebihan bisa menjadi cara spontan untuk meredakan kecemasan atau mencari koneksi sosial. Oversharing kadang muncul sebagai bentuk coping mechanism.
  • Memori kerja terbatas: individu dengan ADHD sering kesulitan menahan detail dalam pikiran sebelum memutuskan apakah relevan untuk dibagikan. Akibatnya, percakapan bisa dipenuhi informasi yang tidak perlu.

Hal penting yang perlu dipahami adalah bahwa oversharing bukanlah pilihan sadar untuk “jujur berlebihan”. Ia lebih tepat dilihat sebagai respon neurologis yang sulit dikendalikan. Dengan kata lain, perilaku ini bukan sekadar masalah komunikasi, melainkan cerminan dari cara otak bekerja.

Memahami kaitan antara ADHD dan oversharing membantu kita melihat perilaku ini dengan lebih empatik. Alih-alih menilai seseorang “tidak tahu batas,” kita bisa memahami bahwa mereka sedang berjuang dengan kondisi yang memengaruhi kontrol diri dan cara berinteraksi.


Bagian 3: Nuansa Psikologis yang Lebih Luas

Oversharing memang sering dikaitkan dengan ADHD, tetapi kenyataannya perilaku ini bisa muncul dari berbagai faktor lain. Dengan melihat nuansa psikologis yang lebih luas, kita akan menemukan bahwa oversharing bukanlah fenomena tunggal, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara kondisi mental, pengalaman hidup, dan lingkungan sosial.

  • Kecemasan sosial.
    Rasa takut ditolak atau tidak diterima sering membuat seseorang berbagi lebih banyak informasi pribadi sebagai cara membangun kedekatan instan. Namun, alih-alih mempererat hubungan, hal ini justru bisa membuat lawan bicara merasa kewalahan.
  • Trauma dan kebutuhan validasi.
    Pada sebagian orang, oversharing muncul sebagai bentuk pencarian pengakuan atau dukungan. Dengan menceritakan pengalaman hidup secara detail, mereka berharap orang lain lebih memahami dan memberi empati. Dalam konteks ini, oversharing menjadi semacam mekanisme bertahan untuk meredakan luka emosional.
  • Budaya komunikasi.
    Tidak semua budaya memandang oversharing sebagai hal negatif. Dalam beberapa komunitas, berbagi detail kehidupan pribadi dianggap wajar dan bahkan menjadi cara untuk mempererat hubungan sosial. Apa yang dianggap “berlebihan” dalam satu budaya bisa jadi dianggap “hangat dan terbuka” dalam budaya lain.
  • Kepribadian ekstrovert.
    Orang dengan kecenderungan ekstrovert biasanya merasa nyaman berbicara panjang lebar dan terbuka. Dalam situasi tertentu, sifat ini bisa bergeser menjadi oversharing karena dorongan untuk terus menjaga percakapan tetap hidup.
  • Rasa kesepian.
    Ketika seseorang jarang memiliki kesempatan untuk berbagi cerita, mereka bisa meluapkan semuanya sekaligus saat ada lawan bicara. Oversharing menjadi semacam pelampiasan kebutuhan sosial yang tertahan.
  • Pengaruh media sosial.
    Platform digital mendorong budaya berbagi tanpa batas. Kebiasaan membagikan detail kehidupan di media sosial dapat terbawa ke percakapan tatap muka, sehingga batas antara “informasi relevan” dan “informasi berlebihan” menjadi kabur.
  • Kurangnya keterampilan komunikasi.
    Tidak semua orang terbiasa membaca situasi atau memahami batas kenyamanan lawan bicara. Kekurangan keterampilan ini bisa membuat seseorang tidak sadar bahwa informasi yang mereka bagikan sudah terlalu banyak.
  • Kebutuhan kontrol atau dominasi percakapan.
    Ada kalanya oversharing muncul bukan karena kecemasan, melainkan sebagai cara untuk menguasai ruang komunikasi. Dengan terus berbicara, seseorang merasa lebih aman atau lebih berkuasa dalam interaksi sosial.

Dengan memahami faktor-faktor ini, kita bisa melihat bahwa oversharing tidak selalu berakar pada ADHD. Ia bisa menjadi refleksi dari kebutuhan emosional, kepribadian, pengalaman masa lalu, kebiasaan sosial, hingga dinamika komunikasi sehari-hari. Perspektif ini membantu kita lebih berhati-hati dalam menilai: oversharing bukan sekadar “kesalahan komunikasi,” melainkan cermin dari kondisi psikologis dan sosial yang sedang dialami seseorang.


Bagian 4: Dampak dan Risiko

Oversharing bukan hanya soal komunikasi yang berlebihan; ia membawa konsekuensi nyata dalam kehidupan sosial maupun pribadi. Dampak ini bisa bersifat langsung maupun jangka panjang, tergantung pada konteks dan intensitas perilaku.

  • Hubungan interpersonal.
    Oversharing dapat membuat orang lain merasa kewalahan, tidak nyaman, atau bahkan menjauh. Alih-alih mempererat hubungan, informasi yang terlalu banyak bisa menciptakan jarak karena lawan bicara merasa privasi mereka dilanggar atau percakapan kehilangan keseimbangan.
  • Citra diri dan profesionalitas.
    Dalam konteks kerja, oversharing bisa menurunkan kredibilitas. Membagikan detail pribadi yang tidak relevan dapat dianggap tidak profesional, dan berisiko mengurangi kepercayaan rekan kerja atau atasan.
  • Kerentanan emosional.
    Membuka terlalu banyak informasi pribadi dapat membuat seseorang rentan terhadap penilaian negatif, gosip, atau bahkan manipulasi. Hal ini bisa memperburuk rasa cemas dan menimbulkan penyesalan setelah berbicara.
  • Kelelahan sosial.
    Bagi pelaku oversharing sendiri, ada risiko burnout sosial. Setelah berbagi terlalu banyak, mereka mungkin merasa terekspos berlebihan, kehilangan energi, atau menyesal karena tidak bisa mengendalikan diri.
  • Dampak digital.
    Di era media sosial, oversharing bisa meninggalkan jejak digital yang sulit dihapus. Informasi pribadi yang dibagikan secara terbuka dapat digunakan oleh pihak lain untuk tujuan yang tidak diinginkan, mulai dari pencurian identitas hingga penyalahgunaan data.
  • Kehilangan batas privasi.
    Terlalu sering berbagi dapat membuat seseorang kesulitan membedakan mana ranah pribadi dan mana yang pantas untuk publik. Akibatnya, kontrol atas identitas diri bisa melemah.
  • Gangguan dinamika kelompok.
    Dalam interaksi sosial, oversharing bisa menggeser fokus percakapan, membuat orang lain merasa tidak punya ruang, atau menciptakan ketidakseimbangan dalam kelompok.
  • Stigma sosial.
    Orang yang sering oversharing bisa dicap “tidak tahu batas” atau “drama,” yang pada akhirnya memperburuk penerimaan sosial mereka.

Dengan melihat seluruh spektrum dampak ini, jelas bahwa oversharing bukan sekadar kebiasaan kecil. Ia bisa memengaruhi reputasi, hubungan, dan kesehatan emosional seseorang. Kesadaran akan risiko ini menjadi langkah awal untuk mengelola komunikasi secara lebih sehat dan seimbang.


Bagian 5: Cara Mengelola Oversharing

Mengendalikan oversharing bukan berarti menutup diri atau berhenti jujur. Intinya adalah menjaga agar keterbukaan tetap terasa hangat, relevan, dan tidak membuat percakapan kehilangan keseimbangan. Langkah-langkah ini bersifat universal — berlaku bagi siapa pun, baik yang hidup dengan ADHD maupun yang tidak. Bedanya, bagi penderita ADHD, strategi ini perlu dijalankan dengan lebih realistis dan penuh empati karena impulsivitas dan regulasi emosi memang menjadi tantangan utama.

  • Kenali pemicu pribadi.
    Perhatikan momen ketika dorongan berbicara berlebihan muncul—apakah saat cemas, kesepian, atau ingin cepat diterima. Kesadaran ini memberi kesempatan untuk menahan diri sebelum berbagi.
  • Latih self-filtering.
    Biasakan bertanya pada diri sendiri: Apakah informasi ini relevan? Apakah lawan bicara perlu tahu? Pertanyaan sederhana ini bisa menjadi rem yang efektif, terutama bagi mereka dengan ADHD yang membutuhkan aturan singkat dan konkret.
  • Atur ritme percakapan.
    Beri ruang bagi orang lain untuk berbicara. Mendengarkan lebih banyak dan menanggapi seperlunya membantu percakapan tetap seimbang, sekaligus mengurangi dorongan impulsif untuk terus berbicara.
  • Salurkan energi verbal ke jalur lain.
    Jika oversharing muncul sebagai pelampiasan emosi atau energi, coba alternatif lain seperti menulis jurnal, merekam suara, atau berbicara dengan orang yang benar-benar dipercaya. Ini sangat membantu bagi penderita ADHD yang sering merasa “penuh” dengan pikiran dan cerita.
  • Waspada di ruang digital.
    Sebelum membagikan sesuatu di media sosial, beri jeda beberapa menit untuk menilai apakah informasi itu pantas dipublikasikan. Bagi penderita ADHD, jeda singkat ini bisa menjadi “rem” yang sederhana namun efektif.
  • Bangun keterampilan komunikasi.
    Membaca literatur atau mengikuti pelatihan komunikasi efektif bisa membantu membentuk kebiasaan berbagi yang lebih proporsional. Untuk penderita ADHD, dukungan dari lingkungan sekitar juga penting agar latihan ini terasa lebih ringan.
  • Fokus pada proses, bukan kesempurnaan.
    Mengelola oversharing adalah perjalanan jangka panjang. Tujuannya bukan untuk berhenti berbicara spontan, melainkan menemukan cara agar keterbukaan tetap sehat tanpa menimbulkan dampak negatif yang berlebihan.

Dengan langkah-langkah ini, keterbukaan tetap terjaga tanpa harus mengorbankan privasi atau kenyamanan orang lain. Oversharing bisa dikelola, sehingga komunikasi tetap sehat, hangat, dan penuh makna — baik bagi mereka yang hidup dengan ADHD maupun bagi siapa saja yang ingin menjaga kualitas interaksi sosialnya.


Bagian Penutup: Oversharing dan Nilai di Balik Keterbukaan

Oversharing sering dianggap kelemahan, sesuatu yang harus dihindari. Namun, setelah kita menelusuri perbedaannya dengan kejujuran, kaitannya dengan ADHD, nuansa psikologis yang lebih luas, serta dampak dan cara mengelolanya, jelas bahwa oversharing bukan sekadar “bicara terlalu banyak.” Ia adalah sinyal komunikasi yang membawa cerita tentang kondisi mental, kebutuhan emosional, dan dinamika sosial seseorang.

Bagi penderita ADHD, oversharing mencerminkan tantangan nyata dalam mengendalikan impuls dan mengatur emosi. Bagi mereka yang tidak memiliki ADHD, oversharing bisa muncul dari kecemasan, kesepian, atau sekadar kebiasaan komunikasi. Artinya, fenomena ini bersifat universal — menyentuh siapa saja, meski dengan alasan yang berbeda.

Dengan perspektif ini, kita bisa berhenti melihat oversharing sebagai kelemahan semata. Sebaliknya, ia dapat menjadi cara untuk memahami lebih baik bagaimana orang berusaha terhubung, menyalurkan emosi, dan mencari penerimaan.

Mengelola oversharing bukan berarti menutup kejujuran, melainkan menemukan keseimbangan. Ketika keterbukaan dijaga dengan kesadaran, komunikasi tidak hanya menjadi lebih sehat, tetapi juga lebih hangat dan penuh makna.

3 Votes: 3 Upvotes, 0 Downvotes (3 Points)

Iklan

Leave a reply


IKLAN
ROPINDO - Solusi Hemat Energi untuk Gedung

Solusi Hemat Energi untuk Gedung.
Sedang mencari sistem yang mudah, hemat biaya, hemat energi, ramah lingkungan, dan revolusioner?
Anda baru saja menemukannya: ROPINDO.
ROPINDO menghadirkan Building Energy Management Systems (BEMS) inovatif yang cocok untuk semua jenis bangunan - yang telah terbukti menurunkan biaya listrik secara signifikan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.

Kunjungi Website
Hubungi via WhatsApp


DUKUNG DUS

Dukung misi kami menghadirkan konten edukatif, reflektif, dan penuh semangat positif.
Anda bisa berdonasi langsung melalui tombol kontribusi Google di bawah ini.

DUKUNG DUS

Dukung misi kami menghadirkan konten edukatif, reflektif, dan penuh semangat positif.
Anda bisa berdonasi langsung melalui tombol kontribusi Google di bawah ini.

Tetap terinformasi dengan berita positif dan inspiratif.

Bersedia untuk menerima informasi dan berita dari DUS.ID melalui email. Untuk informasi lebih lanjut, silakan tinjau Kebijakan Privasi

DUS Channel
Search
RANDOM
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...