
Fenomena oversharing — yakni kecenderungan membagikan terlalu banyak informasi pribadi dalam percakapan — sering kali dianggap sebagai bentuk kejujuran tanpa batas. Banyak orang menilainya sebagai tanda keterbukaan, bahkan kepercayaan. Namun, pandangan ini sebenarnya menyederhanakan realitas psikologis yang lebih kompleks.
Dalam psikologi, oversharing lebih sering dipahami sebagai respon impulsif yang muncul dari kesulitan regulasi diri. Pada sebagian individu, perilaku ini berkaitan erat dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). ADHD sendiri adalah kondisi neurodevelopmental yang biasanya ditandai dengan kesulitan memusatkan perhatian, tingkat impulsivitas yang tinggi, dan kecenderungan hiperaktif. Kondisi ini memengaruhi cara seseorang mengatur fokus, mengendalikan dorongan, serta mengelola emosi — dan hal inilah yang dapat membuat oversharing lebih mudah terjadi.
Mengapa hal ini penting? Karena oversharing bukan sekadar kejujuran berlebihan. Ia adalah sinyal komunikasi yang bisa mencerminkan pergulatan internal seseorang — baik karena faktor neurologis, emosional, maupun sosial. Dengan memahami perbedaan mendasar antara kejujuran dan oversharing, kita dapat lebih empatik dalam menilai perilaku orang lain, sekaligus lebih bijak dalam mengelola cara kita sendiri berkomunikasi.
Kita akan melihat bagaimana oversharing berbeda dari kejujuran, menelusuri kaitannya dengan ADHD, memahami sisi psikologis yang lebih luas, dan mempertimbangkan dampak yang mungkin timbul—sehingga membuka perspektif baru agar oversharing tidak lagi dipandang sekadar kelemahan, melainkan sebagai pintu masuk untuk memahami manusia dengan lebih dalam.
Kejujuran adalah kemampuan untuk menyampaikan kebenaran secara relevan, proporsional, dan sesuai dengan konteks. Dalam komunikasi sehari-hari, kejujuran berarti kita memilih informasi yang penting dan berguna bagi lawan bicara, tanpa menutup-nutupi fakta yang memang perlu diketahui. Kejujuran yang sehat selalu melibatkan filter — yakni pertimbangan tentang apa yang pantas dibagikan, kapan, dan kepada siapa.
Sebaliknya, oversharing terjadi ketika seseorang membagikan informasi yang terlalu banyak, terlalu detail, atau tidak sesuai situasi. Misalnya, menceritakan masalah pribadi yang sangat intim dalam rapat kerja, atau mengungkap detail kehidupan sehari-hari yang tidak relevan dalam percakapan singkat. Dalam kasus seperti ini, informasi yang keluar bukan lagi sekadar kebenaran, melainkan banjir data pribadi yang bisa membuat lawan bicara kewalahan.
Perbedaan mendasar antara keduanya terletak pada niat dan konteks. Kejujuran berakar pada keterbukaan yang sehat, sedangkan oversharing sering kali muncul dari dorongan emosional atau impulsif yang tidak terkendali. Itulah mengapa oversharing tidak bisa disamakan dengan kejujuran berlebihan. Ia lebih tepat dipahami sebagai bentuk komunikasi yang kehilangan keseimbangan antara apa yang ingin diungkap dan apa yang sebaiknya ditahan.
Dengan memahami perbedaan ini, kita bisa lebih bijak dalam menilai perilaku orang lain. Daripada menganggap oversharing sebagai “jujur kelewat batas,” lebih tepat melihatnya sebagai sinyal adanya kebutuhan emosional atau kesulitan regulasi diri. Perspektif ini membuka ruang empati, sekaligus membantu kita mengelola komunikasi agar tetap sehat dan relevan.
ADHD, atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder, adalah kondisi neurodevelopmental yang memengaruhi cara seseorang mengatur perhatian, mengendalikan impuls, dan mengelola energi. Gejalanya biasanya muncul sejak masa kanak-kanak dan dapat bertahan hingga dewasa. Orang dengan ADHD sering mengalami kesulitan untuk fokus pada satu hal dalam waktu lama, cenderung bertindak spontan tanpa banyak pertimbangan, dan memiliki energi yang seolah tidak pernah habis.
Dalam konteks komunikasi, ADHD dapat menjelaskan mengapa oversharing lebih mudah terjadi. Ada beberapa mekanisme psikologis yang berperan:
Hal penting yang perlu dipahami adalah bahwa oversharing bukanlah pilihan sadar untuk “jujur berlebihan”. Ia lebih tepat dilihat sebagai respon neurologis yang sulit dikendalikan. Dengan kata lain, perilaku ini bukan sekadar masalah komunikasi, melainkan cerminan dari cara otak bekerja.
Memahami kaitan antara ADHD dan oversharing membantu kita melihat perilaku ini dengan lebih empatik. Alih-alih menilai seseorang “tidak tahu batas,” kita bisa memahami bahwa mereka sedang berjuang dengan kondisi yang memengaruhi kontrol diri dan cara berinteraksi.
Oversharing memang sering dikaitkan dengan ADHD, tetapi kenyataannya perilaku ini bisa muncul dari berbagai faktor lain. Dengan melihat nuansa psikologis yang lebih luas, kita akan menemukan bahwa oversharing bukanlah fenomena tunggal, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara kondisi mental, pengalaman hidup, dan lingkungan sosial.
Dengan memahami faktor-faktor ini, kita bisa melihat bahwa oversharing tidak selalu berakar pada ADHD. Ia bisa menjadi refleksi dari kebutuhan emosional, kepribadian, pengalaman masa lalu, kebiasaan sosial, hingga dinamika komunikasi sehari-hari. Perspektif ini membantu kita lebih berhati-hati dalam menilai: oversharing bukan sekadar “kesalahan komunikasi,” melainkan cermin dari kondisi psikologis dan sosial yang sedang dialami seseorang.
Oversharing bukan hanya soal komunikasi yang berlebihan; ia membawa konsekuensi nyata dalam kehidupan sosial maupun pribadi. Dampak ini bisa bersifat langsung maupun jangka panjang, tergantung pada konteks dan intensitas perilaku.
Dengan melihat seluruh spektrum dampak ini, jelas bahwa oversharing bukan sekadar kebiasaan kecil. Ia bisa memengaruhi reputasi, hubungan, dan kesehatan emosional seseorang. Kesadaran akan risiko ini menjadi langkah awal untuk mengelola komunikasi secara lebih sehat dan seimbang.
Mengendalikan oversharing bukan berarti menutup diri atau berhenti jujur. Intinya adalah menjaga agar keterbukaan tetap terasa hangat, relevan, dan tidak membuat percakapan kehilangan keseimbangan. Langkah-langkah ini bersifat universal — berlaku bagi siapa pun, baik yang hidup dengan ADHD maupun yang tidak. Bedanya, bagi penderita ADHD, strategi ini perlu dijalankan dengan lebih realistis dan penuh empati karena impulsivitas dan regulasi emosi memang menjadi tantangan utama.
Dengan langkah-langkah ini, keterbukaan tetap terjaga tanpa harus mengorbankan privasi atau kenyamanan orang lain. Oversharing bisa dikelola, sehingga komunikasi tetap sehat, hangat, dan penuh makna — baik bagi mereka yang hidup dengan ADHD maupun bagi siapa saja yang ingin menjaga kualitas interaksi sosialnya.
Oversharing sering dianggap kelemahan, sesuatu yang harus dihindari. Namun, setelah kita menelusuri perbedaannya dengan kejujuran, kaitannya dengan ADHD, nuansa psikologis yang lebih luas, serta dampak dan cara mengelolanya, jelas bahwa oversharing bukan sekadar “bicara terlalu banyak.” Ia adalah sinyal komunikasi yang membawa cerita tentang kondisi mental, kebutuhan emosional, dan dinamika sosial seseorang.
Bagi penderita ADHD, oversharing mencerminkan tantangan nyata dalam mengendalikan impuls dan mengatur emosi. Bagi mereka yang tidak memiliki ADHD, oversharing bisa muncul dari kecemasan, kesepian, atau sekadar kebiasaan komunikasi. Artinya, fenomena ini bersifat universal — menyentuh siapa saja, meski dengan alasan yang berbeda.
Dengan perspektif ini, kita bisa berhenti melihat oversharing sebagai kelemahan semata. Sebaliknya, ia dapat menjadi cara untuk memahami lebih baik bagaimana orang berusaha terhubung, menyalurkan emosi, dan mencari penerimaan.
Mengelola oversharing bukan berarti menutup kejujuran, melainkan menemukan keseimbangan. Ketika keterbukaan dijaga dengan kesadaran, komunikasi tidak hanya menjadi lebih sehat, tetapi juga lebih hangat dan penuh makna.






