
Di dunia yang kini terancam oleh polusi plastik dalam segala bentuknya—dari tumpukan sampah besar hingga mikroplastik yang tak kasat mata—kita menghadapi krisis yang semakin dalam. Partikel-partikel kecil ini sudah menyusup ke dalam rantai makanan dan bahkan tubuh kita. Namun, di tengah keputusasaan ini, sebuah harapan baru muncul dari dunia biologi molekuler. Mereka bukan pahlawan super, melainkan organisme kecil yang memiliki kemampuan luar biasa: melahap plastik. Inilah kisah tentang plastivore, para pemakan plastik yang bisa jadi kunci untuk masa depan yang lebih bersih.
Mikroplastik adalah masalah global yang kian membesar. Partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter ini berasal dari berbagai sumber, mulai dari pecahan sampah plastik yang lebih besar, serat sintetis dari pakaian kita, hingga manik-manik kecil di produk kosmetik. Kehadiran mereka menciptakan ancaman serius. Makhluk laut, dari plankton hingga ikan paus, keliru menganggapnya sebagai makanan, yang menyebabkan masalah pencernaan, kelaparan, dan bahkan kematian. Lebih buruk lagi, mikroplastik bertindak seperti magnet, menarik polutan beracun lainnya yang kemudian berpindah ke dalam rantai makanan, berpotensi mencemari makanan yang kita konsumsi.
Di tengah keputusasaan ini, istilah plastivore muncul ke permukaan. Mereka adalah sekelompok organisme, baik itu bakteri, jamur, maupun serangga, yang secara alami memiliki kemampuan unik untuk mendegradasi dan mengonsumsi plastik. Mereka adalah “bintang” utama dalam pencarian solusi untuk polusi plastik.
Penemuan plastivore pertama kali terjadi secara tidak sengaja pada tahun 2016. Para peneliti di Jepang menemukan spesies bakteri bernama Ideonella sakaiensis yang mampu mencerna PET (polyethylene terephthalate), jenis plastik yang umum digunakan pada botol minuman. Bakteri ini menjadi semacam “selebritas” di dunia sains karena kemampuannya yang luar biasa. Ia menghasilkan dua enzim utama: PETase dan MHETase. PETase bertindak seperti gunting molekuler, memotong polimer PET menjadi molekul perantara, yang kemudian dipecah lebih lanjut oleh MHETase menjadi unit-unit dasar yang dapat diserap oleh bakteri.
Selain bakteri, peneliti juga menemukan plastivore dari kelompok lain. Larva serangga seperti ulat lilin (Galleria mellonella) dan ulat mealworm (Tenebrio molitor) juga menunjukkan kemampuan mengesankan dalam mengurai plastik seperti polyethylene (plastik kantong belanja) dan polystyrene (plastik kemasan busa). Meskipun mekanisme mereka belum sepenuhnya dipahami, diyakini bahwa bakteri di usus mereka memainkan peran kunci dalam proses degradasi ini.
Di dunia jamur, spesies seperti Aspergillus tubingensis ditemukan tumbuh di tempat pembuangan sampah di Pakistan dan memiliki kemampuan untuk memecah polyurethane (plastik busa). Jamur ini menawarkan keunggulan lain: ia dapat tumbuh di permukaan plastik dan bekerja di lingkungan yang minim oksigen, menjadikannya kandidat yang menjanjikan untuk bioremediasi di lokasi yang sulit dijangkau.
Mekanisme di balik kemampuan plastivore sangatlah menarik. Sebagian besar dari mereka memproduksi enzim—protein khusus yang mempercepat reaksi kimia. Enzim inilah yang menjadi “senjata” utama mereka. Enzim ini dirancang secara spesifik untuk memecah rantai polimer panjang yang membentuk plastik menjadi molekul-molekul yang lebih sederhana, yang kemudian bisa dicerna atau diserap sebagai nutrisi. Ini pada dasarnya adalah daur ulang biologis, mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar biologis.
Para ilmuwan kini berfokus pada dua pendekatan untuk memanfaatkan kemampuan ini:
Plastivore, para pemakan plastik ini, sungguh membuka lembaran baru. Potensinya bukan lagi sekadar mimpi. Para ilmuwan membayangkan masa depan di mana kita tidak lagi kewalahan menghadapi tumpukan sampah plastik. Bayangkan pabrik daur ulang yang ditenagai koloni bakteri atau filter air khusus yang diisi enzim plastivore. Kedua pendekatan ini bisa bekerja secara sinergis untuk mengatasi masalah plastik di berbagai skala—dari tumpukan besar di darat hingga mikroplastik di lautan.
Namun, seperti halnya inovasi besar, ada rintangan yang harus dilalui. Para peneliti kini sedang berjibaku dengan beberapa tantangan utama:
Kita hidup di era di mana masalah lingkungan seringkali terasa begitu masif, bahkan mustahil untuk diatasi. Namun, kisah para plastivore mengajarkan kita pelajaran penting: terkadang, solusi terbesar justru datang dari dunia terkecil. Mereka adalah pahlawan tak terduga yang bersembunyi dalam mikrobioma kita, siap melahap apa yang kita anggap sebagai sampah abadi.
Meskipun jalan masih panjang dan tantangan riset di depan mata, keberadaan plastivore memberikan secercah harapan. Mereka tidak hanya menawarkan cara inovatif untuk membersihkan planet kita, tetapi juga menjadi pengingat bahwa alam memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa. Mungkin saja, dengan sedikit bantuan dari sains dan teknologi, kita bisa mengubah krisis plastik yang mengerikan ini menjadi babak baru dalam sejarah daur ulang—dimana alam sendiri yang menjadi garda terdepan dalam menjaga kebersihan bumi kita.






