
Jika Anda merasa lebih sulit fokus atau gampang cemas, mungkin penyebabnya bukan sekadar perasaan pribadi. Sebuah fenomena global terkuak lewat data yang sangat mengkhawatirkan: perangkat yang kita genggam setiap hari tidak hanya mengubah perilaku, tetapi secara fundamental mengubah siapa diri kita.
Melalui serangkaian grafik dari Financial Times yang ditampilkan di acara Fox News, The Will Cain Show, terkuak bukti kuat bahwa penggunaan smartphone memengaruhi inti kepribadian kita. Penemuan ini diperkuat oleh studi-studi mendalam dari institusi ternama, termasuk University of Southern California (USC). Ini adalah sains yang menunjukkan bahwa ponsel mengubah kita, bukan sekadar sebuah opini. Video yang menampilkan grafik ini tersedia di bagian akhir artikel.
Dalam psikologi, kepribadian manusia dapat diukur melalui lima dimensi utama yang dikenal sebagai sifat Big Five. Mereka adalah:
Kelima dimensi inilah yang digunakan sebagai alat ukur untuk menganalisis dampak smartphone.

Grafik pertama, berjudul “Kepribadian Anak Muda Berubah,” menunjukkan bahwa fenomena perubahan kepribadian ini tidak terjadi secara merata di semua kelompok usia. Pergeseran paling dramatis terlihat pada rentang usia 16 hingga 39 tahun, sementara pada kelompok 40-59 tahun perubahannya jauh lebih kecil. Menariknya, pada kelompok usia di atas 60 tahun, nyaris tidak ada perubahan yang signifikan.

Dampak paling mengkhawatirkan dari fenomena ini terlihat pada kelompok usia 16-39 tahun. Padahal, ini adalah usia produktif yang sangat membutuhkan sifat-sifat penting seperti ketekunan, perencanaan, dan tanggung jawab. Grafik kedua, “Apakah Dunia Digital Mengalahkan Komitmen Dunia Nyata?”, menyingkap bagaimana perubahan kepribadian di atas secara langsung mengikis ketiga sifat penting tersebut, yang berwujud dalam penurunan tajam perilaku sehari-hari.

Grafik terakhir, “Ekstroversi dan Dorongan Sosial Turut Menurun,” melengkapi gambaran dengan menunjukkan kerusakan pada aspek sosial kita. Perilaku yang dibahas pada grafik ini paling ekstrem terjadi pada kelompok usia 16-39 tahun.

Temuan-temuan dari grafik ini didukung oleh penelitian ilmiah yang kuat. Studi oleh tim peneliti yang dipimpin oleh Adrian F. Ward, yang diterbitkan di Journal of the Association for Consumer Research, menemukan bahwa kehadiran smartphone saja sudah cukup untuk mengurangi kapasitas kognitif, sebuah fenomena yang dikenal sebagai brain drain. Selain itu, penelitian dari University of Southern California (USC) yang dipimpin oleh Antoine Bechara menunjukkan bahwa smartphone memicu sistem dopamin di otak kita, mirip dengan obat-obatan adiktif.
Konsep seperti “otak busuk” (brain rot), yang dijelaskan oleh psikiater seperti Dr. Brent Nelson, mengacu pada kecenderungan mental ini. Ini bukan tentang kerusakan otak yang ireversibel, melainkan tentang pembentukan jalur saraf baru yang mengutamakan kepuasan instan dan gangguan, dengan mengorbankan ketekunan, empati, dan interaksi sosial yang bermakna.
Ini adalah penemuan yang sangat penting karena menunjukkan bahwa revolusi digital memiliki biaya yang tak terlihat—biaya pada inti kepribadian dan kesejahteraan mental kita. Mengakui dan memahami dampak ini adalah langkah pertama untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan teknologi.
Tonton juga video yang dimaksud – The Will Cain Show – di sini:






