
Apakah kamu merasa menjadi pahlawan tiap kali membeli tas belanja reusable di kasir? Nanti dulu. Perasaan bangga itu wajar, karena keyakinan yang beredar luas adalah setiap tas plastik yang kita hindari adalah sebuah kemenangan kecil bagi planet. Namun, coba kita periksa lagi. Tas belanja yang sering kita sebut “ramah lingkungan” ini, nyatanya memiliki masalahnya sendiri. Apa jadinya jika niat baik kita justru menciptakan masalah baru yang lebih rumit? Mari kita bongkar sisi tersembunyi dari kebiasaan yang keliru ini, menjelaskan mengapa tindakan “ramah lingkungan” tersebut justru bisa lebih merusak daripada membantu.

Niat awal penggunaan Tas Reusable adalah untuk mengurangi limbah plastik sekali pakai. Akan tetapi, ada satu hal yang sering luput dari perhatian: jejak karbon yang dihasilkan dari proses produksi tas tersebut. Mari kita lihat data yang mengejutkan. Berdasarkan analisis siklus hidup (LCA) yang diterbitkan oleh Environment Agency di Inggris, Tas Reusable harus digunakan 4 hingga 11 kali untuk mengimbangi jejak karbon satu buah tas kresek. Angka ini seringkali tidak tercapai karena banyak dari kita yang hanya menggunakannya satu atau dua kali.
Sebagai perbandingan, tas berbahan katun, yang sering dianggap sebagai pilihan paling ramah lingkungan, memiliki dampak tersembunyi yang bahkan lebih signifikan. Menurut sebuah studi dari Badan Perlindungan Lingkungan Denmark, tas katun harus digunakan 131 hingga 20000 kali agar jejak lingkungan totalnya (termasuk penggunaan air, pestisida, dan emisi) sepadan dengan tas kresek. Angka ekstrem ini menunjukkan bahwa satu tas katun membutuhkan ribuan galon air dan lahan pertanian yang luas. Oleh karena itu, jika tas-tas ini tidak digunakan secara konsisten dan berulang kali hingga usang, kita justru telah berkontribusi pada emisi dan kerusakan lingkungan yang jauh lebih besar. Intinya, dampak Tas Reusable sangat bergantung pada seberapa sering ia benar-benar digunakan, bukan hanya dari bahan dasarnya.

Banyak tas belanja yang ditawarkan di supermarket di Indonesia—yang sering terlihat seperti kain dan terasa lembut—pada dasarnya terbuat dari plastik, bukan serat alami seperti katun atau kanvas. Bahan yang paling umum digunakan adalah polypropylene (PP) yang diproduksi dengan teknologi non-woven (tanpa ditenun). Bahan ini dipilih karena proses produksinya yang jauh lebih ringkas dan murah dibandingkan menenun serat alami, membuatnya menjadi pilihan utama bagi produsen.
Meskipun terlihat seperti kain, tas ini adalah produk dari serat plastik yang dilebur dan disatukan secara mekanis. Inilah mengapa teksturnya terasa unik dan seringkali tipis, mirip dengan bahan yang digunakan pada masker medis atau beberapa jenis sportswear. Kesalahpahaman inilah yang sering kali membuat konsumen merasa telah melakukan tindakan yang benar. Mereka membeli sebuah produk plastik yang menyamarkan dirinya sebagai bahan alami, padahal sifat, dampak, dan batasannya sama sekali berbeda.

Mungkin ada di antara kita yang berpikir, “Tidak masalah, Tas Reusable ini bisa didaur ulang.” Sayangnya, anggapan ini juga salah kaprah. Ironisnya, kantong plastik kresek tipis justru jauh lebih mudah didaur ulang karena umumnya terbuat dari bahan tunggal (HDPE). Sebaliknya, sebagian besar Tas Reusable yang terbuat dari bahan plastik polypropylene tidak mudah didaur ulang oleh fasilitas daur ulang standar. Desain dan campurannya membuat mereka seringkali dianggap sebagai kontaminan dan akhirnya dibuang ke tempat pembuangan sampah.
Banyak konsumen tidak menyadari kompleksitas ini. Mereka melihat simbol daur ulang di tas dan merasa tugas mereka sudah selesai. Padahal, seringkali tas-tas ini berakhir di tempat pembuangan sampah. Perilaku “beli-pakai-buang” pada Tas Reusable justru menambah volume sampah baru. Jika kantong plastik sekali pakai punya peluang untuk didaur ulang, Tas Reusable yang kita buang setelah satu atau dua kali penggunaan bisa menjadi beban baru yang tidak bisa diolah kembali. Kita menganggap diri kita melakukan hal yang benar, padahal kita hanya mengganti satu masalah dengan masalah lain yang mungkin lebih besar.

Mengingat jejak karbon yang tinggi dan fakta bahwa tas-tas ini sering berakhir di tempat pembuangan sampah, mengapa kebiasaan membeli tas baru di kasir tetap sulit diubah? Jawabannya terletak pada gabungan faktor psikologis yang sangat manusiawi, tetapi ironisnya keliru dan harus kita ubah:

Kabar baiknya, masalah ini sangat bisa diatasi. Solusinya bukanlah berhenti menggunakan Tas Reusable, melainkan mengubah perilaku kita dalam memperlakukannya.

Kita telah menelusuri fakta-fakta di balik niat baik yang keliru. Di balik label “ramah lingkungan” pada Tas Reusable, tersembunyi sebuah ilusi. Kita merasa telah melakukan hal yang benar, padahal tanpa disadari, kita hanya mengganti satu masalah dengan yang lain, dan bahkan menambah beban bagi bumi. Fakta pahitnya, menjadi pahlawan lingkungan bukanlah tentang membeli tas yang tepat, melainkan tentang menggunakan tas itu dengan benar.
Itu baru tindakan nyata dan menjadi pahlawan lingkungan sesungguhnya: gunakan berulang-ulang seterusnya sampai ribuan kali, sampai usang. Tidak perlu beli baru terus. Dampak terbesar yang bisa kita berikan untuk alam bukan berasal dari apa yang kita beli, melainkan dari apa yang kita lakukan secara konsisten. Mari ubah perilaku kita—mulai dari sekarang.






