Studi Terbaru: Untuk Perlindungan Jantung, Pria Harus Berolahraga Dua Kali Lebih Lama dari Wanita

⏱️ Bacaan: 7 menit, Editor: EZ.  

Pendahuluan: Durasi Olahraga Ternyata Tidak Sama untuk Pria dan Wanita

Selama ini kita percaya bahwa olahraga adalah resep universal untuk menjaga kesehatan jantung — semakin banyak bergerak, semakin besar manfaatnya. Namun, bagaimana jika durasi yang dibutuhkan untuk perlindungan jantung ternyata tidak sama bagi semua orang?

Sebuah studi besar yang dipublikasikan di Nature Cardiovascular Research mengungkap fakta yang mengejutkan: wanita hanya membutuhkan sekitar 4 jam olahraga moderat per minggu untuk menurunkan risiko penyakit jantung koroner hingga 30%, sementara pria harus berolahraga hampir dua kali lebih lama — sekitar 8 jam per minggu — untuk mendapatkan manfaat protektif yang sama.

Temuan ini berasal dari analisis data lebih dari 85000 partisipan dalam UK Biobank, dengan pemantauan aktivitas fisik menggunakan wearable accelerometer selama rata-rata 7 tahun. Studi ini tidak hanya kuat secara metodologis, tetapi juga relevan secara praktis — menantang asumsi lama bahwa satu ukuran durasi olahraga bisa berlaku untuk semua orang, tanpa mempertimbangkan perbedaan biologis.

Dalam wawancara di Fox News, Dr. Marc Siegel menegaskan bahwa pria harus “berusaha dua kali lebih keras” karena tubuh mereka tidak merespons olahraga moderat seefisien wanita dalam hal perlindungan jantung. Faktor hormonal seperti estrogen, yang mendukung elastisitas pembuluh darah dan efisiensi metabolik, diyakini menjadi salah satu penyebab utama perbedaan ini.

Dengan latar belakang ilmiah yang kuat dan implikasi praktis yang luas, studi ini membuka ruang baru untuk memahami ketahanan tubuh secara lebih inklusif. Bukan lagi soal siapa yang lebih kuat atau lebih lama bergerak, tetapi bagaimana tubuh merespons setiap langkah yang kita ambil.

Apa makna dari perbedaan ini? Dan bagaimana seharusnya kita menyesuaikan pola olahraga agar benar-benar efektif? Mari kita telusuri lebih dalam.


Bagian 1: Temuan Studi yang Mengubah Paradigma

Selama bertahun-tahun, pedoman olahraga global seperti yang dikeluarkan oleh WHO dan American Heart Association (AHA) menyarankan durasi yang seragam bagi pria dan wanita — yakni sekitar 150 hingga 300 menit per minggu untuk aktivitas fisik intensitas sedang. Namun, studi terbaru dari jurnal ilmiah bereputasi tinggi Nature Cardiovascular Research, mengungkap bahwa efektivitas durasi olahraga terhadap perlindungan jantung ternyata sangat dipengaruhi oleh jenis kelamin.

Studi berjudul “Sex differences in the association of wearable accelerometer-derived physical activity with coronary heart disease incidence and mortality” ini menganalisis data dari lebih dari 85000 partisipan dewasa dalam proyek UK Biobank, semuanya tanpa riwayat penyakit jantung. Aktivitas fisik mereka dipantau secara objektif menggunakan wearable accelerometer, bukan hanya laporan mandiri, selama rata-rata 7 tahun.

Hasilnya sangat jelas dan konsisten:

  • Wanita yang berolahraga moderat selama 4 jam per minggu mengalami penurunan risiko penyakit jantung koroner sebesar 22 hingga 30%.
  • Pria yang memenuhi pedoman yang sama hanya mengalami penurunan risiko hingga 17%.
  • Untuk mendapatkan manfaat protektif yang setara, pria perlu berolahraga hampir dua kali lebih lama — yakni sekitar 8 jam per minggu.

Temuan ini bukan sekadar statistik. Ia menunjukkan bahwa efek olahraga terhadap jantung tidak bersifat universal, melainkan sangat dipengaruhi oleh jenis kelamin dan respons biologis tubuh. Wanita tampaknya lebih efisien dalam mengubah aktivitas fisik menjadi perlindungan kardiovaskular, sementara pria membutuhkan durasi yang lebih panjang untuk mencapai hasil serupa.

Studi ini juga menyoroti bahwa aktivitas moderat — seperti berjalan cepat, bersepeda ringan, atau berkebun aktif — sudah cukup untuk memberikan manfaat signifikan, asalkan dilakukan dengan durasi yang sesuai. Ini memperkuat pesan bahwa olahraga bukan soal intensitas ekstrem, melainkan soal konsistensi dan kecocokan dengan tubuh masing-masing. Bahkan, temuan lain menunjukkan bahwa satu sesi jalan panjang bisa lebih efektif daripada beberapa sesi pendek, selama tubuh diberi waktu cukup untuk merespons secara metabolik dan kardiovaskular.

Temuan ini mengingatkan kita bahwa durasi bukan sekadar angka yang berlaku universal. Bagi pria, waktu olahraga yang lebih panjang memang dibutuhkan untuk mencapai perlindungan jantung yang setara dengan wanita. Yang menentukan bukan hanya lamanya gerakan, tetapi bagaimana tubuh menyerap manfaat dari setiap gerakan.

Namun penting untuk ditegaskan: perbedaan durasi ini berlaku khusus untuk manfaat protektif terhadap penyakit jantung, sesuai fokus studi. Belum ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa pria dan wanita membutuhkan durasi olahraga berbeda untuk manfaat kesehatan lainnya seperti kekuatan otot, metabolisme, atau kesehatan mental. Studi ini berbicara tentang jantung — dan di sanalah perbedaan itu terbukti nyata.


Bagian 2: Penjelasan Dr. Siegel – Mengapa Pria Butuh Lebih Lama

Perbedaan durasi olahraga antara pria dan wanita dalam studi ini bukanlah kebetulan. Dalam wawancara bersama Fox News, Dr. Marc Siegel — dokter spesialis penyakit dalam dan kontributor medis senior — menjelaskan bahwa perbedaan ini mencerminkan cara tubuh pria dan wanita merespons olahraga secara biologis.

Menurut Dr. Siegel, wanita memiliki efisiensi kardiovaskular yang lebih tinggi dalam merespons aktivitas fisik moderat. Salah satu faktor kuncinya adalah hormon estrogen, yang diketahui berperan dalam menjaga elastisitas pembuluh darah, meningkatkan aliran darah, dan mendukung metabolisme lemak. Kombinasi ini membuat tubuh wanita lebih cepat mendapatkan manfaat protektif dari olahraga terhadap penyakit jantung.

Sebaliknya, tubuh pria cenderung membutuhkan stimulus fisik yang lebih besar dan lebih lama untuk mencapai efek perlindungan yang sama. Ini bukan berarti pria kurang sehat atau kurang mampu, melainkan karena mekanisme biologis mereka bekerja dengan cara yang berbeda. Dr. Siegel menyebut bahwa pria harus “berusaha dua kali lebih keras” untuk mendapatkan manfaat yang sama dalam konteks perlindungan jantung.

Penjelasan ini memperkuat temuan studi bahwa durasi olahraga tidak bisa disamaratakan. Respons tubuh terhadap olahraga sangat dipengaruhi oleh faktor hormonal, metabolik, dan vaskular yang memang berbeda antara pria dan wanita. Dalam konteks kesehatan jantung, wanita memiliki keunggulan efisiensi, sementara pria membutuhkan pendekatan yang lebih strategis dalam mengatur waktu dan intensitas olahraga.

Yang menarik, perbedaan ini tidak berarti salah satu lebih unggul dari yang lain. Justru, ia menegaskan bahwa kesehatan adalah soal adaptasi terhadap kebutuhan tubuh masing-masing, bukan soal mengikuti standar tunggal yang belum tentu cocok untuk semua.


Bagian 3: Implikasi untuk Rekomendasi Kesehatan Publik

Selama ini, pedoman olahraga global seperti yang dikeluarkan oleh WHO dan AHA menetapkan durasi aktivitas fisik yang seragam untuk semua orang dewasa — biasanya antara 2,5 hingga 5 jam per minggu untuk intensitas sedang. Namun, studi ini menunjukkan bahwa efektivitas durasi tersebut tidak merata, terutama dalam konteks perlindungan terhadap penyakit jantung.

Temuan bahwa pria perlu berolahraga dua kali lebih lama dari wanita untuk mendapatkan perlindungan jantung yang sama bukan sekadar fakta menarik — ini bisa mengubah cara kita memahami olahraga sehari-hari.

Wanita tampaknya lebih cepat mendapatkan manfaat protektif dari aktivitas fisik moderat, sementara pria perlu waktu lebih lama untuk mencapai efek yang setara. Artinya, rekomendasi olahraga sebaiknya tidak lagi satu ukuran untuk semua.

Bagi tenaga kesehatan, ini bisa jadi titik awal untuk menyusun program olahraga yang lebih pas — bukan hanya berdasarkan usia atau intensitas, tapi juga mempertimbangkan jenis kelamin dan cara tubuh bekerja. Pria mungkin perlu menambah durasi atau frekuensi olahraga, sementara wanita bisa fokus pada konsistensi dan kualitas gerakan.

Bagi kita semua, temuan ini adalah pengingat bahwa mengenali tubuh sendiri itu penting. Olahraga tetap bermanfaat untuk semua orang, tapi cara kita melakukannya bisa berbeda — dan itu tidak apa-apa. Yang penting, tubuh kita mendapatkan perlindungan yang dibutuhkan.


Kesimpulan: Ketahanan Bukan Soal Siapa Lebih Lama, Tapi Siapa Lebih Responsif

Studi ini membuka mata kita bahwa tubuh manusia tidak bekerja dengan pola seragam. Dalam hal perlindungan jantung, wanita terbukti lebih responsif terhadap olahraga moderat, sementara pria perlu durasi yang lebih panjang untuk mendapatkan manfaat yang sama. Bukan karena salah satu lebih unggul, tetapi karena tubuh kita punya cara masing-masing dalam menyerap manfaat gerakan.

Ini bukan soal siapa lebih kuat, siapa lebih lama, atau siapa lebih rajin. Ini soal bagaimana tubuh merespons setiap langkah — dan respons itu dipengaruhi oleh hormon, metabolisme, dan sistem kardiovaskular yang memang berbeda antara pria dan wanita.

Dengan memahami perbedaan ini, kita bisa berhenti membandingkan dan mulai menyesuaikan. Olahraga bukan lagi soal mengejar angka, tapi soal mengenali kebutuhan tubuh sendiri dan bergerak dengan strategi yang tepat.

Karena pada akhirnya, ketahanan bukan soal durasi semata — melainkan soal kecocokan antara gerakan dan tubuh yang menjalaninya.


Referensi:

Leave a reply


IKLAN
ROPINDO - Solusi Hemat Energi untuk Gedung

Solusi Hemat Energi untuk Gedung.
Sedang mencari sistem yang mudah, hemat biaya, hemat energi, ramah lingkungan, dan revolusioner?
Anda baru saja menemukannya: ROPINDO.
ROPINDO menghadirkan Building Energy Management Systems (BEMS) inovatif yang cocok untuk semua jenis bangunan - yang telah terbukti menurunkan biaya listrik secara signifikan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.

Kunjungi Website
Hubungi via WhatsApp


DUKUNG DUS

Dukung misi kami menghadirkan konten edukatif, reflektif, dan penuh semangat positif.
Anda bisa berdonasi langsung melalui tombol kontribusi Google di bawah ini.

DUKUNG DUS

Dukung misi kami menghadirkan konten edukatif, reflektif, dan penuh semangat positif.
Anda bisa berdonasi langsung melalui tombol kontribusi Google di bawah ini.

Tetap terinformasi dengan berita positif dan inspiratif.

Bersedia untuk menerima informasi dan berita dari DUS.ID melalui email. Untuk informasi lebih lanjut, silakan tinjau Kebijakan Privasi

DUS Channel
Search
RANDOM
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...