Dari Katrina ke Melissa: Bagaimana Badai Mendapatkan Namanya

⏱️ Bacaan: 8 menit, Editor: EZ.  

Melissa sedang bergerak di atas laut Karibia. Ia bukan sekadar badai tropis yang muncul tiba-tiba di radar cuaca — Melissa adalah nama yang telah disiapkan bertahun-tahun sebelumnya, menunggu giliran untuk digunakan. Begitu sistem cuaca mencapai ambang kekuatan tertentu, nama itu pun “diaktifkan”, dan sejak saat itu, Melissa menjadi identitas resmi yang digunakan oleh para ahli meteorologi, lembaga cuaca, dan media global.

Di balik penamaan yang tampak sederhana, tersimpan sistem mitigasi yang kompleks, sejarah budaya yang kontroversial, dan logika ilmiah yang jarang diketahui publik. Mengapa badai diberi nama? Siapa yang menentukannya? Dan kenapa dulu semua badai dinamai dengan nama wanita?

Dari Katrina yang mengguncang dunia hingga Melissa yang kini menjadi peringatan global, penamaan badai telah menjadi bagian penting dari komunikasi risiko dan memori kolektif. Nama-nama itu bukan sekadar label cuaca ekstrem — mereka adalah jejak, identitas, dan pengingat akan kekuatan alam yang tak bisa diabaikan.

Mari kita mulai dari awal: bagaimana badai mendapatkan namanya.


Bagian 1: Kapan Badai Mulai Mendapat Nama

Badai tidak langsung diberi nama saat pertama kali muncul di radar. Ia harus “membuktikan diri” terlebih dahulu. Dalam dunia meteorologi, sistem cuaca yang baru terbentuk biasanya disebut sebagai depresi tropis — sebuah kumpulan awan dan badai petir dengan sirkulasi tertutup, namun belum cukup kuat untuk disebut badai tropis.

Baru ketika kecepatan angin berkelanjutan mencapai 39 mil per jam (sekitar 63 km per jam), sistem tersebut naik kelas menjadi badai tropis. Inilah momen penting: saat itulah nama resmi dari daftar yang telah disiapkan sebelumnya langsung disematkan. Nama itu bukan hasil keputusan dadakan, melainkan bagian dari sistem mitigasi global yang telah dirancang dengan cermat oleh World Meteorological Organization (WMO).

Setelah dinamai, badai tersebut akan terus membawa nama itu ke mana pun ia bergerak — melintasi samudra, menghantam daratan, bahkan ketika ia melemah atau berubah bentuk menjadi sistem pasca-tropis. Nama itu menjadi identitas tetap, digunakan oleh semua lembaga cuaca, media, dan peneliti di seluruh dunia.

Contohnya, badai Melissa tahun ini tidak mendapatkan namanya karena keunikan bentuk atau lokasi. Ia mendapat nama karena ia adalah badai tropis ke-13 dalam daftar Atlantik 2025, dan “Melissa” memang sudah menunggu giliran sejak lama. Begitu sistem cuaca itu memenuhi syarat, nama Melissa pun resmi digunakan — dan sejak saat itu, semua laporan, grafik, dan peringatan cuaca menyebutnya dengan nama itu.

Nama badai bukan sekadar label. Ia adalah titik awal komunikasi publik, pengingat akan potensi bahaya, dan penanda bahwa alam sedang bergerak dengan kekuatan yang tak bisa diabaikan.


Bagian 2: Siapa yang Menentukan Nama-Nama Itu dan Bagaimana Daftarnya Disusun

Nama badai tidak dipilih secara spontan oleh negara yang terdampak, apalagi oleh media. Penamaan badai adalah hasil dari sistem internasional yang telah dirancang dengan cermat dan dijalankan secara konsisten oleh World Meteorological Organization (WMO) — lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengoordinasikan data dan kebijakan cuaca global.

Setiap wilayah tropis di dunia — seperti Atlantik Utara, Pasifik Barat, atau Samudra Hindia — memiliki daftar nama sendiri yang disusun oleh komite regional WMO. Daftar ini terdiri dari 21 nama per tahun, diurutkan berdasarkan alfabet, dan digunakan secara bergiliran setiap musim badai. Huruf-huruf seperti Q, U, X, Y, dan Z biasanya dihindari karena keterbatasan nama yang umum digunakan dalam berbagai bahasa.

Nama-nama tersebut disiapkan bertahun-tahun sebelumnya dan digunakan secara berurutan, tanpa memandang kekuatan badai. Artinya, badai kecil pun bisa memiliki nama, sementara sistem yang gagal berkembang tidak akan pernah dinamai. Jika jumlah badai dalam satu musim melebihi daftar yang tersedia, nama tambahan dari daftar cadangan akan digunakan.

Yang menarik, jika sebuah badai terbukti sangat merusak atau mematikan — seperti Katrina (2005) atau Haiyan (2013) — maka nama tersebut akan “dipensiunkan”. Ini dilakukan untuk menghormati korban dan menghindari kebingungan emosional atau administratif di masa depan. Nama yang dipensiunkan akan digantikan oleh nama baru yang diajukan dan disetujui oleh komite regional.

Dengan sistem ini, setiap nama badai bukan hanya penanda cuaca, tapi juga bagian dari arsitektur mitigasi global — memastikan bahwa komunikasi lintas negara, bahasa, dan lembaga tetap konsisten dan efektif.


Bagian 3: Mengapa Dulu Semua Badai Bernama Wanita

Jika Anda membaca arsip badai tropis sebelum tahun 1980, Anda akan menemukan pola yang mencolok: hampir semua badai diberi nama wanita. Hurricane Alice, Betsy, Carla, Donna — nama-nama ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari sistem penamaan yang didasarkan pada stereotip budaya yang kini terasa janggal.

Praktik ini dimulai pada tahun 1953, ketika Amerika Serikat mulai menggunakan nama wanita untuk badai tropis di wilayah Atlantik. Alasannya? Nama wanita dianggap lebih “mudah diingat” dan “lebih cocok” untuk badai yang dianggap tak terduga, berubah-ubah, dan berbahaya. Bahkan ada anggapan populer saat itu bahwa badai seperti “wanita pemarah” — sebuah stereotip yang kini jelas seksis.

Sebelum 1953, badai hanya diidentifikasi dengan koordinat geografis, seperti “badai di 15°N, 75°W” — sulit diingat dan rawan kesalahan komunikasi. Penamaan dengan nama manusia dianggap lebih efektif untuk menyampaikan peringatan kepada publik. Namun, penggunaan eksklusif nama wanita mulai menuai kritik, terutama dari kalangan ilmuwan dan aktivis perempuan.

Pada tahun 1979, sistem penamaan resmi diubah. Nama pria mulai digunakan secara bergantian dengan nama wanita, dan daftar nama disusun agar mencerminkan keragaman budaya dan bahasa. Kini, badai bisa bernama Andrew, Maria, Felix, atau Melissa — tanpa bias gender yang dulu melekat.

Perubahan ini bukan sekadar kosmetik. Ia mencerminkan evolusi dalam cara kita memahami komunikasi risiko, representasi publik, dan pentingnya inklusivitas bahkan dalam sistem ilmiah. Nama badai bukan hanya alat teknis, tapi juga cermin budaya yang terus berkembang.


Bagian 4: Nama Badai Sebagai Jejak Digital Cuaca Ekstrem

Begitu sebuah badai diberi nama, ia tidak hanya menjadi bagian dari laporan cuaca — ia menjadi entitas yang bisa dilacak, dianalisis, dan dikenang. Nama badai berfungsi seperti kode identifikasi global, digunakan oleh semua lembaga meteorologi, media, dan peneliti untuk merujuk pada sistem cuaca yang sama, tanpa kebingungan lintas bahasa atau wilayah.

Setiap data yang dikumpulkan — kecepatan angin, tekanan atmosfer, lintasan, dampak, dan korban — akan dikaitkan dengan nama tersebut. Inilah yang membuat nama badai menjadi jejak digital cuaca ekstrem. Ia bukan hanya penanda teknis, tapi juga arsip emosional dan ilmiah yang melekat dalam sejarah.

Contohnya, Katrina bukan sekadar badai tahun 2005. Ia adalah simbol dari bencana, kegagalan sistem evakuasi, dan trauma kolektif yang masih dibahas hingga kini. Demikian pula Haiyan, yang dikenal di Filipina sebagai Yolanda, menjadi pengingat akan kekuatan alam dan pentingnya kesiapsiagaan.

Nama badai juga memudahkan pelacakan lintasan dan dampaknya dari waktu ke waktu. Peneliti bisa membandingkan badai dengan nama berbeda dalam satu musim, atau menganalisis pola badai dengan nama yang mirip di musim berbeda. Bahkan dalam komunikasi publik, nama badai membantu masyarakat mengenali ancaman dengan cepat dan mengambil tindakan yang tepat.

Melissa, yang kini sedang bergerak di atas Karibia, telah menjadi bagian dari sistem ini. Ia bukan lagi sekadar fenomena atmosfer, tapi entitas yang diidentifikasi, dipantau, dan diingat — baik oleh para ahli maupun oleh masyarakat yang terdampak.


Bagian 5: Ketika Nama Badai Dipensiunkan dan Digantikan

Tidak semua nama badai akan digunakan kembali. Beberapa nama — karena dampaknya yang luar biasa besar — diputuskan untuk tidak pernah dipakai lagi. Inilah yang disebut sebagai retirement atau pemensiunan nama badai.

Keputusan ini diambil oleh komite regional dari World Meteorological Organization (WMO) setelah musim badai berakhir. Jika sebuah badai menyebabkan kerusakan besar, korban jiwa yang signifikan, atau trauma kolektif yang mendalam, maka nama tersebut dianggap terlalu sensitif untuk digunakan kembali. Tujuannya bukan hanya untuk menghormati para korban, tetapi juga untuk menghindari kebingungan emosional dan administratif di masa depan.

Contoh paling terkenal adalah Katrina (2005), badai yang menghancurkan New Orleans dan menewaskan lebih dari 1.800 orang. Nama itu langsung dipensiunkan dan digantikan oleh Katia dalam daftar rotasi berikutnya. Demikian pula Haiyan (2013), yang dikenal sebagai Yolanda di Filipina, menjadi salah satu badai paling mematikan dalam sejarah modern dan juga dipensiunkan.

Ketika sebuah nama dipensiunkan, negara-negara anggota di wilayah tersebut akan mengusulkan nama pengganti. Nama baru harus memenuhi kriteria tertentu: mudah diucapkan, tidak menyinggung budaya atau agama, dan sesuai dengan bahasa yang umum digunakan di wilayah tersebut.

Proses ini menegaskan bahwa nama badai bukan hanya alat teknis, tetapi juga simbol kolektif. Ia bisa menjadi luka sejarah, pengingat akan kegagalan atau keberhasilan mitigasi, dan bahkan menjadi bagian dari identitas nasional. Dalam konteks ini, pemensiunan nama bukanlah akhir dari sebuah badai — melainkan awal dari ingatan yang terus hidup.


Penutup: Ketika Alam Dinamai, Kita Belajar Mengenali Ancaman

Nama badai bukan sekadar kata yang muncul di layar berita. Ia adalah identitas yang melekat pada kekuatan alam, sistem mitigasi yang menyelamatkan nyawa, dan arsip kolektif yang menyimpan jejak trauma, pembelajaran, dan refleksi.

Dari Katrina yang mengubah cara dunia memandang kesiapsiagaan bencana, hingga Melissa yang kini bergerak di atas Karibia, penamaan badai telah menjadi bagian penting dari komunikasi risiko global. Ia membantu kita mengenali ancaman lebih cepat, memahami lintasan bahaya, dan mengingat pelajaran dari masa lalu.

Namun, di balik sistem yang tampak teknis, tersimpan sejarah budaya yang kompleks — dari stereotip gender hingga pemensiunan nama karena luka yang terlalu dalam. Bahasa, dalam hal ini, bukan hanya alat ilmiah, tapi juga cermin dari cara kita merespons kekacauan alam.

Ketika alam diberi nama, kita tidak hanya mengidentifikasi badai. Kita belajar mengenali ancaman, menghormati korban, dan membangun sistem yang lebih tangguh. Nama badai adalah pengingat bahwa di tengah ketidakpastian cuaca, komunikasi yang tepat bisa menjadi penyelamat.

Dan mungkin, di masa depan, kita akan terus menamai badai — bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk memahami. Karena mengenali adalah langkah pertama untuk bertahan.

Leave a reply


IKLAN
ROPINDO - Solusi Hemat Energi untuk Gedung

Solusi Hemat Energi untuk Gedung.
Sedang mencari sistem yang mudah, hemat biaya, hemat energi, ramah lingkungan, dan revolusioner?
Anda baru saja menemukannya: ROPINDO.
ROPINDO menghadirkan Building Energy Management Systems (BEMS) inovatif yang cocok untuk semua jenis bangunan - yang telah terbukti menurunkan biaya listrik secara signifikan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.

Kunjungi Website
Hubungi via WhatsApp


DUKUNG DUS

Dukung misi kami menghadirkan konten edukatif, reflektif, dan penuh semangat positif.
Anda bisa berdonasi langsung melalui tombol kontribusi Google di bawah ini.

DUKUNG DUS

Dukung misi kami menghadirkan konten edukatif, reflektif, dan penuh semangat positif.
Anda bisa berdonasi langsung melalui tombol kontribusi Google di bawah ini.

Tetap terinformasi dengan berita positif dan inspiratif.

Bersedia untuk menerima informasi dan berita dari DUS.ID melalui email. Untuk informasi lebih lanjut, silakan tinjau Kebijakan Privasi

DUS Channel
Search
RANDOM
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...