Generasi Digital, Buta Ukuran: Ketika 1 Meter Menjadi Misteri

PsikologiKeluarga4 months ago

⏱️ Bacaan: 5 menit, Editor: EZ.  

Sebagai orang tua, kita terbiasa mengukur pertumbuhan anak: tinggi badan, ukuran sepatu, panjang meja belajar. Kita tahu bahwa 1 meter sama dengan 100 sentimeter — sebuah fakta sederhana yang kita anggap pasti. Tapi bagaimana jika anak kita sendiri tidak tahu itu?

Fenomena ini bukan sekadar kekeliruan kecil. Ia adalah sinyal bahwa ada sesuatu yang bergeser dalam cara anak-anak kita belajar dan memahami dunia. Di tengah gempuran teknologi, perubahan kurikulum, dan gaya hidup digital, kemampuan dasar seperti konversi satuan mulai terpinggirkan.

Artikel ini mengajak Anda — para orang tua — untuk melihat lebih dekat, memahami akar masalahnya, dan bersama-sama mencari jalan keluar. Karena jika satu meter saja menjadi misteri, mungkin kita perlu bertanya: apa lagi yang telah kita abaikan?


Bagian 1: Ketika Fakta Dasar Tak Lagi Pasti

Dalam beberapa percakapan langsung dengan remaja — dari SMP hingga mahasiswa semester awal — penulis menemukan bahwa pertanyaan sederhana seperti “1 meter berapa sentimeter?” tidak lagi menghasilkan jawaban pasti. Sebagian menjawab 1000 sentimeter, atau bahkan “nggak tahu.”

Data dari PISA (Programme for International Student Assessment) tahun 2022 memperkuat kekhawatiran ini: sekitar 72% siswa Indonesia berada di level 1 ke bawah dalam literasi matematika. Artinya, mereka kesulitan memahami dan menerapkan konsep dasar matematika dalam konteks sehari-hari.

Sebagai orang tua, kita mungkin bertanya: Bagaimana mungkin anak yang tumbuh di era serba canggih tidak tahu hal sesederhana ini?


Bagian 2: Fenomena Global, Tapi Dampaknya Lokal

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Amerika Serikat, Inggris, dan Australia, guru-guru melaporkan bahwa siswa semakin mengandalkan kalkulator dan pencarian online, bahkan untuk operasi dasar seperti perkalian atau konversi satuan.

Studi dari Stanford University menunjukkan bahwa generasi digital cenderung memiliki “kepercayaan berlebih” terhadap teknologi, sehingga mengabaikan proses berpikir kritis dan logika dasar. Mereka tahu cara mencari jawaban, tapi tidak selalu tahu mengapa jawaban itu benar.

Namun, dampaknya paling terasa di rumah. Ketika anak kita tidak bisa menjawab pertanyaan dasar, bukan hanya sekolah yang perlu ditinjau — tapi juga cara kita mendampingi mereka belajar di luar kelas.


Bagian 3: Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Ada beberapa penyebab yang saling berkaitan:

1. Gaya belajar yang berubah drastis.
Anak-anak sekarang lebih terbiasa dengan video pendek, visual interaktif, dan jawaban instan. Mereka jarang diajak berpikir pelan-pelan, apalagi merenung.

2. Kurikulum yang padat tapi dangkal.
Sekolah mengejar target materi, tapi kurang memberi ruang untuk eksplorasi dan pemahaman mendalam. Satuan ukuran diajarkan sebagai hafalan, bukan sebagai pengalaman.

3. Minimnya keterkaitan dengan kehidupan nyata.
Matematika jarang dikaitkan dengan aktivitas sehari-hari. Anak tidak diajak mengukur tinggi badan, menghitung luas kamar, atau memahami jarak tempuh. Padahal, semua itu bisa jadi pintu masuk yang menyenangkan.

4. Budaya takut salah.
Banyak anak enggan bertanya karena takut dianggap bodoh. Padahal, rasa ingin tahu adalah bahan bakar utama dalam belajar.

5. Ketergantungan pada teknologi.
Dengan kalkulator di genggaman dan jawaban tersedia di mesin pencari, anak-anak kehilangan dorongan untuk berpikir mandiri. Teknologi menjadi alat instan, bukan pendamping proses berpikir.


Bagian 4: Dampaknya pada Masa Depan Anak

Ketika anak tidak memahami konsep dasar seperti satuan ukuran, dampaknya bisa jauh lebih besar dari yang kita bayangkan:

  • Mereka akan kesulitan dalam pelajaran lanjutan seperti fisika, kimia, atau ekonomi.
  • Mereka akan kesulitan memahami instruksi teknis di dunia kerja.
  • Mereka akan kehilangan kepercayaan diri dalam berpikir logis dan analitis.
  • Mereka akan lebih mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan — karena tidak punya kemampuan untuk memverifikasi secara kuantitatif.

Penelitian dari Universitas Negeri Yogyakarta menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis konteks nyata (seperti Realistic Mathematics Education) terbukti meningkatkan pemahaman konsep dasar. Sayangnya, pendekatan ini belum diterapkan secara luas di sekolah-sekolah Indonesia.


Bagian 5: Peran Orang Tua dalam Mengembalikan Logika Dasar

Sebagai orang tua, kita tidak harus menjadi guru matematika. Tapi kita bisa menjadi fasilitator logika — dengan cara yang sederhana, menyenangkan, dan penuh makna.

1. Libatkan anak dalam aktivitas nyata.
Ajak mereka mengukur tinggi badan, menghitung jarak tempuh saat berjalan, atau membandingkan ukuran benda di rumah. Jadikan matematika bagian dari kehidupan, bukan hanya pelajaran.

2. Beri ruang untuk bertanya dan salah.
Jangan buru-buru membetulkan. Biarkan mereka berpikir, mencoba, dan keliru. Dari sanalah pemahaman tumbuh.

3. Gunakan pendekatan yang kontekstual dan emosional.
Misalnya: “Kalau kamu berdiri di samping meja ini, kira-kira berapa cm tingginya dibanding kamu?” atau “Kalau kamu jalan 1 meter, itu berapa langkahmu?”

4. Jadikan belajar sebagai petualangan, bukan kewajiban.
Gunakan cerita, humor, dan permainan. Matematika bisa jadi menyenangkan jika dikemas dengan rasa ingin tahu dan kebersamaan.

5. Bangun kebiasaan berpikir logis sejak dini.
Bukan hanya soal angka, tapi juga soal cara melihat dunia: membandingkan, memperkirakan, dan menyusun argumen.


Kesimpulan: Alarm Diam di Ruang Keluarga

Jika anak kita tak tahu bahwa 1 meter sama dengan 100 sentimeter, itu bukan sekadar kekeliruan. Itu adalah alarm diam — yang tidak terdengar di ruang kelas, tapi berdentang di ruang keluarga.

Kita tidak sedang menyalahkan generasi muda. Kita sedang diajak untuk hadir lebih utuh sebagai orang tua: bukan hanya memberi makan dan perlindungan, tapi juga membangun fondasi berpikir yang akan mereka bawa seumur hidup.

Karena logika bukan warisan. Ia adalah kebiasaan — yang tumbuh dari interaksi, diskusi, dan rasa ingin tahu yang terus diasah. Dan jika kita tidak mulai dari sekarang, misteri 1 meter bisa jadi hanya permulaan dari hilangnya nalar dasar yang lebih luas.


Baca Juga: Antara Tahu dan Bijaksana di Era Digital

Jika Anda merasa artikel ini menggugah dan ingin memahami lebih dalam tentang bagaimana generasi digital menghadapi banjir informasi dan terjebak dalam ilusi pengetahuan, dan bagaimana informasi instan bisa menjadi “junk food” bagi otak, lanjutkan dengan membaca atau mendengarkan: “Wawasan di Ujung Jari: Antara Tahu dan Bijaksana”.

3 Votes: 3 Upvotes, 0 Downvotes (3 Points)

Iklan

Leave a reply


IKLAN
ROPINDO - Solusi Hemat Energi untuk Gedung

Solusi Hemat Energi untuk Gedung.
Sedang mencari sistem yang mudah, hemat biaya, hemat energi, ramah lingkungan, dan revolusioner?
Anda baru saja menemukannya: ROPINDO.
ROPINDO menghadirkan Building Energy Management Systems (BEMS) inovatif yang cocok untuk semua jenis bangunan - yang telah terbukti menurunkan biaya listrik secara signifikan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.

Kunjungi Website
Hubungi via WhatsApp


DUKUNG DUS

Dukung misi kami menghadirkan konten edukatif, reflektif, dan penuh semangat positif.
Anda bisa berdonasi langsung melalui tombol kontribusi Google di bawah ini.

DUKUNG DUS

Dukung misi kami menghadirkan konten edukatif, reflektif, dan penuh semangat positif.
Anda bisa berdonasi langsung melalui tombol kontribusi Google di bawah ini.

Tetap terinformasi dengan berita positif dan inspiratif.

Bersedia untuk menerima informasi dan berita dari DUS.ID melalui email. Untuk informasi lebih lanjut, silakan tinjau Kebijakan Privasi

DUS Channel
Search
RANDOM
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...