
Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa cokelat batangan favorit Anda terasa lebih kecil, atau sekantong keripik kentang isinya semakin sedikit, padahal harganya tidak berubah? Di saat yang sama, semakin banyak produk yang dikemas dalam bungkus-bungkus kecil sekali pakai atau sachet. Perasaan ini bukanlah ilusi. Ini adalah hasil dari dua strategi berbeda yang digunakan produsen untuk mengatasi tantangan pasar.
Wajah pertama dari fenomena ini adalah shrinkflation. Taktik ini mengandalkan psikologi konsumen yang cenderung lebih sensitif terhadap perubahan harga di label daripada perubahan ukuran atau berat. Ketika biaya produksi, bahan baku, atau energi meningkat, produsen berada di persimpangan jalan: menaikkan harga secara mencolok atau mengurangi jumlah produk. Banyak yang memilih opsi kedua.
Contoh paling umum terjadi pada makanan ringan, sereal, atau pasta gigi. Anda mungkin tidak menyadarinya sampai Anda memegang dua kemasan dari tahun yang berbeda dan membandingkan berat bersihnya, misalnya, dari 500 gram menjadi 450 gram. Produsen mengandalkan fakta bahwa konsumen jarang membawa timbangan ke supermarket atau membandingkan berat bersih dari waktu ke waktu. Tujuannya adalah untuk menjaga harga di titik psikologis yang familiar bagi pembeli, sehingga keputusan pembelian tetap terasa “wajar” dan tidak memberatkan.
Wajah kedua adalah sachet-isasi, sebuah strategi yang lebih transparan dan sering kali disengaja untuk menjaga harga tetap terjangkau. Ini adalah praktik di mana produsen menawarkan produk dalam kemasan yang jauh lebih kecil, seperti sachet atau mini-pack.
Strategi ini sering kali berjalan beriringan dengan kenaikan harga pada kemasan standar. Saat harga sebotol sampo besar naik drastis, produsen akan memastikan ada opsi sachet yang harganya jauh lebih murah. Tujuannya bukan hanya untuk menjaga produk tetap dapat dijangkau oleh konsumen, tetapi juga untuk memperluas penetrasi pasar.
Kemasan sachet membuka jalan bagi produk untuk masuk ke pasar yang belum terjamah. Dengan harga yang sangat rendah, produk dapat dijangkau oleh konsumen dari berbagai kalangan ekonomi. Selain itu, sachet memungkinkan produk dijual di toko-toko kelontong kecil (warung) atau oleh pedagang kaki lima, yang sulit dicapai oleh produk kemasan besar. Ini adalah cara cerdas untuk memastikan merek mereka tetap hadir dan relevan di mana pun, bahkan di sudut-sudut kota yang paling terpencil.
Namun, ada sisi lain dari strategi ini: harga per unit (per gram atau per mililiter) dari produk sachet biasanya jauh lebih mahal daripada kemasan besar. Anda membayar lebih banyak untuk setiap isinya, tetapi kemasan kecil ini memberikan ilusi keterjangkauan.
Shrinkflation dan sachet-isasi adalah dua respons cerdas dari produsen terhadap tekanan ekonomi global. Mereka tidak hanya bereaksi terhadap kenaikan biaya, tetapi juga secara proaktif membentuk perilaku konsumen. Mereka tahu bahwa menaikkan harga secara frontal bisa merusak loyalitas merek, sementara bermain dengan ukuran dan kemasan memungkinkan mereka untuk beradaptasi tanpa membuat konsumen merasa terbebani.
Kedua strategi ini menunjukkan bagaimana perusahaan berupaya menyeimbangkan antara keuntungan, daya beli konsumen, dan persepsi merek. Shrinkflation adalah taktik yang mengandalkan kebiasaan dan ketidakmauan konsumen untuk memeriksa detail, sementara sachet-isasi mengandalkan kebutuhan konsumen akan harga yang rendah, meskipun nilai per unitnya tidak optimal.
Untuk menghadapi kedua strategi ini, kita harus menjadi pembeli yang lebih berdaya. Tidak perlu alat canggih, cukup dengan sedikit perhatian lebih saat berbelanja.
Pada akhirnya, perang antara produk yang menyusut dan kemasan yang mengecil adalah cerminan dari tantangan ekonomi yang lebih besar. Produsen, sama seperti kita, berupaya beradaptasi dengan kondisi yang tak terhindarkan. Strategi yang mereka gunakan adalah respons logis untuk menjaga bisnis tetap berjalan dan produk tetap tersedia di pasar, di tengah kenaikan biaya yang terus-menerus. Tugas kita sebagai konsumen bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memahami. Dengan menjadi lebih jeli dan kritis, kita bisa mengambil kendali penuh atas keputusan belanja kita. Dan dengan kesadaran penuh, kita bisa memastikan nilai yang sepadan selalu kita dapatkan.






