Kartun adalah hiburan yang menyenangkan, tetapi dampaknya sering kali melampaui layar kaca. Bagaimana tidak? Bahkan orang dewasa sekalipun kadang masih membawa pisang untuk monyet liar, karena percaya bahwa itu adalah makanan utama mereka—semua berkat pengaruh kartun!
Stereotip seperti ini mungkin terlihat sepele, tetapi seiring waktu, persepsi yang salah bisa membentuk cara kita memandang hewan. Tidak hanya itu, kebiasaan ini juga berpotensi memengaruhi bagaimana kita memperlakukan mereka, baik di alam liar maupun sebagai peliharaan. Mari kita bongkar beberapa mitos populer dari dunia kartun dan ungkap kebenarannya, satu per satu.
Mitos: Monyet digambarkan memuja pisang sebagai makanan utama mereka.
Fakta: Dalam kehidupan nyata, monyet memakan berbagai makanan seperti daun, buah-buahan lainnya, bunga, dan serangga. Pisang modern yang kita makan juga berbeda dari pisang liar. Selain itu, di banyak habitat alami monyet, seperti hutan hujan atau sabana, pohon pisang mungkin tidak ada sama sekali, sehingga pisang bukanlah bagian utama dari diet mereka.
Mitos: Bugs Bunny menciptakan stereotip bahwa kelinci hidup dari wortel.
Fakta: Wortel sebenarnya mengandung gula yang tinggi dan hanya boleh diberikan sebagai camilan. Kelinci membutuhkan makanan utama berupa rumput dan dedaunan.
Mitos: Saint Bernard sering digambarkan membawa barel kecil di leher mereka untuk menyelamatkan orang di pegunungan bersalju.
Fakta: Barel ini hanya mitos romantisasi dari abad ke-19. Meski terkenal sebagai anjing penyelamat, mereka tidak benar-benar membawa barel atau alat sejenis.
Mitos: Kartun sering menunjukkan anjing secara naluriah mengejar kucing di mana saja dan kapan saja, seperti dalam banyak animasi klasik.
Fakta: Meskipun anjing memiliki naluri berburu, mereka tidak selalu mengejar kucing. Hubungan antara anjing dan kucing sangat bergantung pada lingkungan, pengalaman, dan bagaimana mereka diperkenalkan satu sama lain.
Mitos: Kucing sering digambarkan suka meminum susu.
Fakta: Sebagian besar kucing dewasa intoleran laktosa, sehingga susu justru dapat menyebabkan gangguan pencernaan.
Mitos: Dalam kartun seperti Tom and Jerry, kucing digambarkan tak henti mengejar tikus.
Fakta: Tidak semua kucing mengejar tikus secara naluriah. Jika kucing tidak diajarkan berburu sejak kecil, mereka mungkin tidak tertarik pada tikus.
Mitos: Banteng menjadi marah saat melihat warna merah, seperti dalam adegan adu banteng di kartun.
Fakta: Banteng sebenarnya buta warna untuk merah. Respons agresif mereka disebabkan oleh gerakan kain, bukan warnanya.
Mitos: Serigala selalu melolong ketika ada bulan purnama.
Fakta: Serigala melolong untuk berkomunikasi, bukan karena bulan purnama. Purnama hanya digunakan sebagai latar dramatik dalam cerita.
Mitos: Dalam kartun, burung unta sering digambarkan menyembunyikan kepala mereka di pasir setiap kali mereka merasa takut.
Fakta: Burung unta tidak menyembunyikan kepala mereka di pasir. Ketika merasa terancam, mereka biasanya berlari sangat cepat untuk melarikan diri. Kebiasaan mereka menundukkan kepala ke tanah sebenarnya dilakukan untuk memeriksa atau merawat telur mereka, bukan karena takut.
Mitos: Dalam kartun, gajah sering kali digambarkan takut pada tikus kecil, biasanya dengan adegan lucu gajah melompat ketakutan.
Fakta: Tidak ada bukti bahwa gajah takut pada tikus. Mitos ini kemungkinan berasal dari gagasan bahwa tikus bisa masuk ke belalai gajah dan mengganggu pernapasan mereka. Namun, gajah cenderung penasaran terhadap benda-benda kecil, termasuk tikus, daripada takut pada mereka.
Kartun memang sering menggunakan stereotip ini untuk hiburan, tetapi penting untuk tidak membiarkan hal tersebut membentuk pemahaman kita tentang dunia nyata. Dengan mengetahui fakta-fakta ini, kita dapat lebih menghargai keunikan dan keragaman hewan tanpa terjebak pada mitos yang salah.
Baca juga: Bagian 2